Hiro chapter 2.5
読んでください
Selamat membaca
Hiro bergegas menyusul Claudya. Dia menaiki tangga lalu menerobos masuk ke kamar Claudya dan yang lainnya. Di sana terlihat Sherly, Rianty, dan Neruka yang sedang mengobati luka Claudya. Saat melihat Hiro memasuki kamar Claudya memeluk erat Neruka ketakutan untuk berlindung kepadanya dan Sherly segera menarik tangan Rianty mendekati Hiro mereka lalu membentangkan tangannya untuk menghadang langkah Hiro mendekati Claudya.
Hiro dengan cepat memeluk Rianty perasaan sangat kacau saat itu. Dia mengerang marah sekaligus menangis sedih. "maafkan aku! Andai saat itu aku lebih kuat. Pasti bibi tidak akan mati." rasa bersalah Hiro yang terus menghantuinya membuat Hiro memeluk Rianty seakan akan tidak ingin melepaskan. "maaf, maaf,"
Rianty memeluk Hiro kembali lalu menepuk punggung Hiro. "tenanglah bang!"
Hiro mengatur napasnya mencoba untuk mengendalikan emosinya sambil tetap memeluk Rianty. Mata Hiro tertuju pada Claudya yang kini berada dalam dekapan Neruka.
"jika kakak ingin menyakiti kak Claudya lagi. Kakak tidak boleh masuk ke sini!" teriak Sherly yang berada di samping Hiro.
Hiro melirik Sherly yang seketika membuat Sherly segera berlari ke belakang Neruka ketakutan.
"bang Hiro, pergi aja dulu ya!" bisik Rianty sambil menahan tubuh Hiro.
"izinkan aku bicara dengannya untuk sekali saja. Aku harus menyelesaikan masalahku ini." pinta Hiro dengan nada suara yang lebih tenang.
Rianty melirik Neruka matanya mengisyaratkan untuk meminta izin padanya.
Neruka menatap tajam Hiro. "nggak boleh. Dia sudah mencoba untuk menyakiti Claudya sekali. Aku tidak akan membiarkan menyakiti saudariku." Neruka semakin erat mendekap Claudya.
Hiro berjalan melewati Rianty. Rianty mencoba menahan Hiro dengan menarik lengannya. Hiro berdiri di depan Neruka, Claudya, dan Sherly.
Neruka melepaskan dekapannya kepada Claudya lalu berdiri menghadang Hiro. "sudah aku bilang bukan. Jangan mendekat kau—"
Hiro memegang bahu Neruka lalu menatapnya dengan tatapan berkaca kaca yang tidak bisa diartikan sehingga membuat Neruka seketika terdiam. "aku mohon izinkan aku bicara padanya sekali ini saja. Aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi. Aku berjanji tidak akan melarangnya bermain dengan Rianty lagi. Aku berjanji jika aku melanggar janjiku maka kau boleh mematahkan satu jariku. Aku tahu kau tidak percaya padaku karena sikap bodohku waktu itu. Selama ini aku mengira bahwa kehidupan kamilah yang paling menderita tanpa menyadari bahwa masih ada yang lebih menderita dibandingkan oleh kami." Hiro menundukkan kepalanya di depan Neruka. "oleh karena itu izinkan aku bicara padanya untuk satu kali ini saja. Aku harus minta maaf padanya!" teriak Hiro.
Neruka menundukkan kepalanya. "aku pegang janjimu. Aku benar benar akan mematahkan satu jarimu jika kau berani melanggarnya." Neruka membiarkan Hiro lewat walaupun hatinya sangat berat untuk melakukan itu
Claudya terlihat sangat ketakutan saat Hiro berada di depannya. Claudya memeluk erat Sherly.
Hiro berlutut di depan Claudya lalu tersenyum. "tolong pukul aku sekuat yang kau bisa! Tolong hancurkan wajahku lalu bebaskan aku rasa bersalah ini. Tolong beri aku perintah agar aku bisa mendapatkan maaf darimu. Aku benar benar minta maaf."
"maaf, sulit, aku, tidak, hah," ucapan Claudya tertahan, Claudya menganggap Hiro sama seperti cowok jahat yang menyakitinya. Dia benar benar tidak akan memaafkan Hiro. Namun, saat dia melihat mata Hiro. 'kenapa dia menatapku seperti itu?' Hatinya menjadi ragu. "aku tidak akan memaafkan." Claudya menatap tajam Hiro dan terlihat bersikeras tidak mau memaafkan Hiro.
"aku mengerti bahwa kau tidak bisa memaafkanku. Tapi, setidaknya aku ingin kau membalas perbuatanku waktu itu dengan memukul wajahku. Kau anak yang baik Berbeda denganku. Jadi, tolong kurangi rasa bersalahku ini kepadamu. Aku bersumpah setelah ini aku tidak akan menyakitimu lagi, tidak akan melarangmu bermain bersama Rianty, dan aku akan menuruti apapun permintaanmu agar aku bisa mendapatkan maaf darimu." saat melihat Claudya, dia terbayang bayang sosok Rianty. Hiro pun tak mengerti apa yang dia rasakan saat ini.
Claudya menatap Hiro dengan tatapan sendu. "kau serius?" tidak mudah bagi Claudya untuk memaafkan cowok yang menyakitinya. Trauma yang dia alami selagi kecil terus membekas di ingatannya.
Hiro tertawa sambil mengusap usap wajahnya mencoba menenangkan dirinya sendiri dari rasa bersalahnya. "aku benar benar serius." bibirnya tersenyum. Namun, matanya terus mengeluarkan air.
"apakah aku benar benar boleh memukulmu? Kau tidak akan membalas dengan memukulku kan?" Claudya terlihat ragu, apakah benar benar dia tidak akan dibalas. Baginya cowok itu hanyalah makhluk yang selalu merasa benar. Mereka tak ragu untuk menyakiti dan tidak mau disalahkan saat mereka salah.
"aku tidak akan membalasmu. Aku bersumpah tidak akan melakukan itu." Hiro merentangkan tangannya menyakinkan dan mempersilakan Claudya untuk menghukumnya.
"kau berjanji akan menuruti semua kemauanku dan tidak melarangku bermain dengan Rianty lagi?" Claudya beranjak dari tempat tidurnya lalu berdiri di depan Hiro sambil tetap memeluk Sherly.
"iya. Jadi, aku mohon hukum aku! Agar aku selalu mengingat kejadian ini." Hiro bersujud di depan Claudya memohon untuk dihukum atas kesalahannya.
Claudya menangis menatap Hiro yang bersujud di depannya. Apakah benar ada cowok yang rela bersujud dan membuang egonya untuk dihukum atas kesalahannya. Claudya melepaskan pelukannya pada Sherly lalu mendekati Hiro. Claudya menarik wajah Hiro agar menghadap ke atas.
Hiro tersenyum melihat Claudya yang menangis sambil menatap geram dirinya. "lakukanlah!"
Claudya menarik kerah baju Hiro ke atas. Dia berteriak lalu memukul wajah Hiro sekuat tenaga, pukulannya menghantam mata kiri Hiro yang membuat Hiro meringis kesakitan. Tatapan Claudya seakan dipenuhi amarah yang mendalam.
"semua yang selama ini selalu kau pendam, lampiaskan semuanya kepadaku." Hiro menatap Claudya dengan bibir yang sedikit terangkat.
Claudya memukul wajah Hiro terus menerus sambil meraung dan menangis, teringat akan semua traumanya kepada cowok yang selama ini hanya dia pendam di dalam hati kecilnya. Perasaan ingin membalas yang selalu tersimpan karena akan dirinya yang lemah kini dilepaskan selepas lepasnya oleh Claudya.
"Buatlah hatimu lega dengan melakukan apa yang selalu ingin kau lakukan." Hiro menahan semua pukulan Claudya, entah kenapa setiap hati Claudya memukulnya dia merasa lega, seakan sedikit demi sedikit beban di hatinya terangkat bersama dengan rasa sakitnya.
Claudya memukul wajah Hiro semakin cepat dan kuat sambil semakin keras mengerang marah dan menangis. Setiap pukulan yang dia lakukan di wajah Hiro membuatnya teringat dengan semua cowok jahat yang merundungnya di masa lalu.
"kau bukanlah wanita yang lemah. Kau bisa menghajar pria berengsek manapun jika kau mau sama seperti kau menghajarku. Bayangkan wajah wajah pria berengsek itu di wajahku lalu balaskan semua dendammu padaku." Hiro semakin memotivasi Claudya. Dia emang tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya kepada Claudya. Tapi, yang pasti Hiro yakin. Dia menunggu untuk hari ini. Hari dimana dia bisa melepaskan bebannya.
Claudya semakin brutal memukul wajah Hiro, dia benar benar tak bisa mengendalikan dirinya lagi. Ketakutan besar itu kini berada di hadapannya, ini adalah kesempatan dimana dia tak perlu menahan dirinya lagi. Dia menendang wajah Hiro sehingga membuat wajah Hiro terdorong ke samping. Claudya menarik kerah baju Hiro lalu menghantamkan keningnya ke wajah Hiro. Claudya tetap menempel keningnya di wajah Hiro. Claudya bernapas berat, dia menenangkan dirinya mencoba untuk berpikir jernih kembali.
Hiro merasa Claudya sudah selesai memukul wajahnya karena Claudya hanya diam setelah menghantamkan keningnya ke wajah Hiro. "apakah su—" Claudya memeluk Hiro sambil menangis dengan suara kecil.
"Claudya kau—" Neruka mencoba mendekati Claudya. Namun, Hiro segera menyuruhnya dan yang lainnya untuk diam.
"aku kira semua cowok hanyalah orang jahat yang tidak mau mempertanggungjawabkan jawabkan perbuatannya. Aku membenci ayah karena dia menyakiti ibu. Aku membenci mereka semua karena mereka menghukumku walaupun aku tidak tahu dimana salahku." Claudya membuka isi hatinya yang sudah lama dia pendam.
"hm.. Bukankah masih ada cowok yang baik kepadamu seperti kakak yang ada di sini dan anak cowok itu." ucap Hiro sambil mengusap usap rambut Claudya mencoba untuk menenangkannya.
"aku pernah menyelamatkan Rayyan saat dia dipukul oleh orang itu, oleh karena itu dia terus menjagaku. jika aku tidak pernah menyelamatkannya, dia tidak mungkin akan menjagaku. Sedangkan bang Arlan dan yang lainnya mereka menyayangiku karena aku dan ibuku telah baik kepada mereka dengan membiarkan mereka tinggal di sini. mereka berbuat baik dan menjagaku hanya dengan dasar balas budi pada ibuku. Jika mereka tidak pernah tinggal di sini mungkin mereka akan menyakiti dan menjelekkanku juga sama seperti yang lainnya. Cowok itu adalah makhluk paling jahat yang tidak mau dihukum saat menyakiti, tidak mau bertanggung jawab saat berbuat salah, dan hanya akan melakukan hal baik untuk membalas budi." air mata Claudya mengalir deras di pipinya, pertama kalinya dia merasa bahwa dia bisa membagi beban yang selalu dia simpan sendiri.
"perkataanmu itu tidaklah salah. Namun, ingatlah cowok lain itu berbeda dengan kakak cowok. Semua cowok yang ada di sini bukanlah orang asing. Tapi, kakak cowokmu. Kalian adalah keluarga sempurna yang tidak akan hancur walaupun tidak sedarah. Hubungan kakak dan adik yang ada di sini benar benar murni tidak memiliki alasan tanpa didasari oleh apapun. Aku bisa merasakan amarah yang tulus dari mereka saat mengetahui bahwa aku menyakitimu. Mereka benar benar berniat membunuhku jika aku tidak segera minta maaf padamu karena mereka sayang padamu bukan karena kau anak pemilik panti asuhan ini. Tapi, karena kau adalah adik yang cantik dan disayangi oleh mereka." Hiro mencoba menyakinkan Claudya dengan ucapannya yang tegas.
"apakah itu benar?" tanya Claudya yang ragu akan kebenaran dari ucapan Hiro.
"iya, dan soal cowok lainnya itu. Kau tidak perlu takut. Kau sangat cantik sehingga membuat mereka iri lalu menjelekkanmu. Kau sangat kuat sehingga mereka iri lalu menyakitimu, kau teramat sempurna dan tidak memiliki kesalahan apapun sehingga mereka mencoba terus menghukummu. Kau dijahati karena kau teramat baik, kau direndahkan karena kau teramat tinggi dan kau dihina di belakang karena kau jauh berada di depan mereka. Itu bukan salahmu. Itu salah mereka yang iri karena tidak bisa menjadi seperti dirimu. Jadi, kenapa kau yang malah takut. Kau lebih segala segalanya dari mereka. mereka bukanlah tandingmu. Jadi, kenapa kau malah lari. Kau bisa memukulku, kau pasti juga bisa memukul mereka. Kau bisa menendangku, kau pasti juga bisa menendang mereka. Kau pasti bisa membalas mereka dan melakukan apapun yang kau mau." entah kenapa saat ini Hiro merasa terhubung dengan Claudya, dia mengatakan hal itu tanpa dia tahu sebabnya. Padahal dia teramat baru mengenal Claudya. Tapi, di dalam diri Claudya, Hiro melihat Rianty yang menangis sehingga membuatnya dirinya juga tak bisa mengendalikan dirinya.
Claudya tersenyum lalu menghapus air matanya. "apakah aku bisa melakukan itu?"
"ya, kau pasti bisa karena kau itu. Karena kau itu baik, cantik, terdepan, kuat,serta sempurna." melihat senyuman Claudya seakan membuat beban Hiro terlepas. Hiro melirik ke arah Rianty dan tersenyum lega.
Claudya kembali memeluk Hiro berterima kasih banyak kepadanya. "terimakasih, kau adalah cowok jahat yang benar benar baik. Kau memujiku dengan berlebihan. Tapi, aku senang dengan semua pujianmu." Claudya menatap mata Hiro. "kau tadi berjanji akan menuruti apapun kemauanku kan?" Claudya menagih ucapan Hiro tadi.
"iya, sebutkan saja apa keinginanmu kepadaku. Jika itu masuk akal dan bisa dipenuhi aku pasti akan mewujudkannya." Hiro menghapus air matanya dengan pakaiannya karena malu menangis di hadapan anak anak di depannya.
"aku menginginkan keluarga yang baik. Jadi aku ingin kau menjadi kakak cowokku karena aku memerlukan banyak kakak cowok untuk membuat anggota keluarga yang baik!" Claudya menatap Hiro dengan penuh pengharapan.
Hiro meringis memegang wajahnya kesakitan. "baiklah, aku berjanji, selama aku berada di sini aku akan menjadi kakak cowokmu bahkan setelah aku keluar dari sini. mulai sekarang panggil aku bang Hiro sama seperti Teratai memanggilku!"
Claudya memeluk Hiro erat. "aku telah mendapatkan satu lagi kakak cowok yang baik. Abang Hiro." entah mengapa Claudya merasa bahagia rasa takut dan waspadanya kepada Hiro sekarang hilang entah kemana.
"iya." Hiro mengusap rambut Claudya. Dia menatap ke arah Neruka yang masih menatapnya sinis dan Sherly ketakutan terhadap Hiro. "kalian berdua aku tahu bahwa kalian masih membenciku. Jadi, aku juga akan mengabulkan satu permintaan kalian agar bisa mendapatkan maaf dari kalian." Hiro berdiri lalu diikuti oleh Claudya yang juga berdiri dibantu oleh Hiro.
"kau serius?" tanya Neruka dengan nada tidak percaya.
"hm.. Apa yang kau inginkan dariku agar aku bisa mendapatkan maaf darimu?" tanya Hiro.
Neruka tersenyum senang. "kalau begitu kau harus selalu menggendongku. Jika ingin aku memaafkanku."
"boleh saja. Tapi, syaratnya kau harus memanggilku bang Hiro ya," ucap Hiro.
"baiklah.. Kalau begitu sekarang gendong aku!" Neruka melompat ke punggung Hiro dengan sigab Hiro langsung menggendongnya.
Sherly mendekati Hiro. "aku ingin abang Hiro bermain hantu dan pengusir hantu bersamaku jika mau aku maafkan." Sherly menyentuh tubuh Hiro. "bang Hiro jaga, ayo kejar aku!" Sherly berlari keluar dari kamar.
Hiro menatap kepergian Sherly lalu berbalik ke arah Rianty dan Claudya. "kalian berdua juga ikut ya. Ayo kita kejar si kecil itu." Hiro memegang tangan Rianty dan Claudya lalu menariknya keluar dari kamar.
"mulai sekarang kalian berdua adalah adikku yang akan selalu aku jaga dengan nyawaku sendiri." batin Hiro.
Claudya dan Rianty tersenyum mengikuti Hiro. "ayo abang, aku juga mau jadi penangkap hantu." ucap Rianty dengan nada ceria.
Saat keluar dari kamar Hiro terkejut saat melihat tiga remaja dan bi Aina berada di luar kamar itu.
"ibu kenapa ada di sini?" tanya Claudya.
Bu Aina terlihat senang. "ah.. Ibu hanya ingin memberitahu pada kalian bahwa sarapan sudah ibu siapkan. Jadi, setelah bermain nanti. Kalian langsung sarapan saja ya."
"dan kalian bertiga ngapain ada di sini?" Hiro menatap ketiga remaja itu.
Ketiga remaja itu terlihat panik. "kami ke sini karena ingin berpamitan pada bibi. Jadi, bi kami izin pergi lagi ya! Dan kalian bermainlah dengan akur kami pergi dulu!" ketiga remaja itu hendak pergi.
"terimakasih karena telah mengkhawatirkan keadaan kami. Aku minta maaf untuk semuanya," ucap Hiro.
"ah.. Itu sudah lewat lagian semuanya sudah selesai kan. Jadi, lupakan saja semua itu bermainlah dengan gembira di sini. Jangan pikirkan hal lain." ketiga remaja itu menuruni tangga.
"ayo kita cari di mana anak itu berada!" ajak Hiro.
"ayo." jawab Claudya dan Rianty semangat.
"dan untukmu. Apakah kau bisa tidak turun dari punggungku untuk sebentar saja. Karena aku tidak bisa mencari anak itu sambil menggendongmu." Hiro melirik ke arah Neruka yang seperti sudah nempel di punggungnya dan menyembunyikan wajahnya di atas bahunya
"kau harus melakukan ini jika mau aku maafkan," ucap Neruka dengan nada lesu.
"cih.. Dasar." decih Hiro dingin, dia melirik bi Aina. " bi kami permisi ya." Hiro berlari sambil menggendong Neruka mencari keberadaan Sherly diikuti oleh Claudya dan Rianty di belakangnya.
Hiro menemukan Sherly yang sedang bersembunyi di toilet. Namun, saat Hiro mencoba menangkap Sherly. Sherly menyiramkan air kepada Hiro menggunakan gayung yang ada di bak mandi Sehingga membuat Hiro dan Neruka yang ada di punggung Hiro menjadi kebasahan. Neruka turun dari punggung Hiro lalu memarahi Sherly. Sedangkan Claudya dan Rianty hanya tertawa melihat mereka.
Hiro mengambil air dari gayung lalu menyiramkannya kepada Sherly, Rianty, dan Claudya sambil mengatakan, "tidak adil kalau cuma kami berdua yang basah lagian kalian juga belum mandi kan?" dengan nada dingin sehingga membuat baju Sherly, Rianty, dan Claudya menjadi basah.
Rianty, Sherly, dan Claudya marah kepada Hiro karena telah menyiramkan air kepada mereka sehingga membuat mereka basah kuyup sambil mengatakan, "cuma bang Hiro yang belum mandi di sini."
Arlan berdiri dari balik tembok menyaksikan mereka semua asik bermain air. "aku mendapatkan satu lagi adik laki laki lagi." Arlan pergi dari tempat itu. "mereka tetaplah anak anak yang paginya bertengkar. Namun, sorenya bermain. Hiro, anak itu memiliki sebuah hal yang istimewa yang membuat dia disegani sekaligus ditakuti sehingga mudah untuk mendapatkan maaf. Apa itu sejenis kemampuan yang sama dengan bocah maniak game itu." pikir Arlan.
Semenjak hari itu. Hari hari Hiro dipenuhi dengan bermain dan bergembira bersama dengan Rianty dan anak anak dari panti asuhan. Hiro menyangka bahwa sebulan dia berada di panti asuhan ini akan terasa sangat menyenangkan. Namun, dua minggu kemudian.
Hiro diam saat memasuki rumah yang sudah dipenuhi oleh orang orang yang ingin mengantarkan kepergiannya. Hiro melihat mayat orang yang dikenalnya sudah terbujur kaku dengan kain kapan yang sudah menutupi tubuhnya. "mpok?" Rianty menangis sambil memeluk jasad itu. mata Hiro terbelalak dan kakinya terasa lemas melihat wajah mayat dari ibu pemilik kontrakan yang berada di depannya. "kenapa ini bisa terjadi?"
Bersambung
読んでくれてありがとう




