Hiro chapter 2
読んでください
Selamat membaca
***
Semua itu terus berlangsung sampai hari Hiro lulus SD. Hiro mengambil rapot yang diberikan oleh gurunya lalu berjalan pulang. Hiro melihat rapot yang dipegangnya dengan perasaan hampa. "semua ini tidak ada gunanya lagi. Walaupun aku telah lulus tidak ada orang yang bisa menjadi tempatku menceritakan semua ini." Hiro berjalan menuju gerbang sekolah. Dari arah sampingnya terdapat Rianty, temannya Hiro, Abimanyu dan Satya berlari ke arah Hiro.
"abang lihat aku naik kelas empat." Rianty tersenyum menunjukkan isi rapotnya.
"kami juga naik kelas enam, bang Hiro." Abimanyu dan Satya juga kompak menunjukkan isi rapotnya kepada Hiro.
"selamat atas kenaikan kelas kalian. Anak pintar." Hiro mengusap rambut Rianty. "ayo kita pulang!" saat melewati gerbang sekolah terdapat banyak anak SMP yang menunggu kedatangan Hiro.
"selamat atas kelulusannya bang Hiro." mereka semua menundukkan kepalanya di hadapan Hiro. semua anak smp itu adalah orang orang yang terus mengikuti Hiro setelah dikalahkan oleh Hiro. Mereka memanggil Hiro dengan sebutan abang karena mengikuti Rianty dan dua teman Hiro yang memanggilnya bang.
"hm.. Kalian semua lebih tua dariku. Tidak pantas kalian menyebutku dengan sebutan abang. Kenapa kalian ada sini?" Hiro berjalan mendekati salah satu murid SMP di sana sambil memegang tangan Rianty.
"karena hari ini adalah hari kelulusan bang Hiro bagaimana kalau kita merayakannya dengan—"
"pulanglah! Tidak perlu ada yang dirayakan." Hiro berjalan pulang bersama Rianty, meninggalkan kumpulan anak SMP itu di sana.
salah satu murid SMP itu menghadang langkah Hiro. "bang Hiro, dengarkan kami dulu! Baiklah.. Jika abang tidak mau kelulusan abang dirayakan. Namun, kami memiliki permintaan kepada bang Hiro. Jika bang Hiro nanti ingin masuk SMP. Masuklah ke SMP terkuat di bagian—" sebelum menyelesaikan ucapannya murid SMP itu terpental akibat pukulan dari Hiro.
"maaf, aku sedang tidak ingin diganggu." Hiro menggepalkan tangannya sambil menatap sekeliling sehingga membuat semua murid SMP yang ada di sana tidak ada yang berani mendekatinya. "jadi, jangan ada siapa pun yang menghalangi langkahku lagi!" Hiro berjalan pulang sambil menarik tangan Rianty.
Abimanyu dan Satya segera berlari menyusul Hiro untuk pulang bersama.
Setelah sampai di rumah Hiro menjatuhkan tasnya lalu membuka baju dan celananya sekolah. Terlihat kaos polos dan celana kolor di balik seragam sekolah Hiro. "Rianty, tolong bereskan semua ini! Aku akan segera pulang setelah mendapatkan uang." Hiro berjalan kembali menuju pintu keluar.
"abang, mau langsung kerja lagi? Nggak mau istirahat atau makan dulu?" Rianty menghalangi langkah Hiro.
"aku akan pulang jika aku lapar." Hiro memegang bahu Rianty lalu mendorongnya ke samping secara perlahan agar tidak menghalangi jalannya.
Saat di halaman rumah Hiro melihat ibu pemilik kontrakan berjalan menuju rumahnya sambil membawa sesuatu di tangannya. "nak Hiro, mpok denger kau sudah lulus SD, selamat ya.. Kau dapat peringkat berapa?" ibu pemilik kontrakan berjalan mendekati Hiro.
Hiro membenarkan kacamata hitam yang dia pakai. "Jika mpok ingin mengobrol lakukan saja itu dengan Rianty! Aku harus segera pergi ke pasar sekarang." Hiro berjalan melewati ibu pemilik kontrakan. Namun, ibu pemilik kontrakan itu menahan tangan Hiro.
"nak.. Ada yang ingin mpok bicarakan denganmu." ibu pemilik kontrakan menatap Hiro dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"apakah itu hal yang serius?" tanya Hiro.
"sangat serius." ibu pemilik kontrakan menarik tangan Hiro untuk kembali ke rumahnya. "kita bicara di rumahmu saja ya!" mereka kembali masuk ke rumahnya Hiro.
"Abang kenapa balik lagi? Dan Mpok ada urusan apa datang ke sini?" Rianty keluar dari dapur lalu melihat kedatangan ibu pemilik kontrakan dan Hiro.
"iya, Rianty lagi mau memasak makanan ya? Hati hati saat menggunakan pisau dan menghidupkan kompor gas!" pesan ibu pemilik kontrakan saat melihat Rianty membawa sayur dan pisau di tangannya.
"siap, mpok! Oh ya.. Silakan duduk. Aku akan ikut mengobrol setelah selesai memasak makanan untuk abang Hiro." Rianty kembali pergi ke dapur.
Ibu pemilik kontrakan duduk di lantai. "setelah ditinggalkan oleh ibunya. Rianty sudah jadi gadis yang mandiri di usianya yang masih belia. Dia benar benar anak yang hebat dan kuat." ibu pemilik kontrakan memuji kemandirian Rianty.
"itu tidak benar, Teratai hanyalah seorang anak cengeng yang terus menangis lalu menyebut ibunya saat dia merindukannya." Hiro duduk di sampingnya ibu pemilik kontrakan.
"wajar nak. Jika Rianty merindukan ibunya. Dia masih sa—"
"aku benci saat Rianty menangis karena merindukan ibunya karena aku tidak bisa berbuat apapun untuk menghilangkan tangisannya yang menyebalkan itu. Jika ada orang yang membuat Rianty menangis maka aku akan menghajar orang itu sampai Rianty berhenti menangis. Namun, jika dia menangis karena merindukan ibunya yang sudah mati maka aku tidak bisa melakukan apapun selain mengutuk takdir." Hiro memukul keras lantai rumahnya. "takdir benar benar bangs*t,"
Ibu pemilik kontrakan memeluk Hiro untuk membuatnya tenang. "sudah, jangan menyalahkan takdir! Setiap takdir buruk memiliki kebaikan di dalamnya dan begitu pun sebaliknya. Tuhan ingin kalian menjadi orang yang mandiri dengan mengambil orang yang menjadi tempat bertumpuhnya kalian. Sekarang lihatlah kalian telah menjadi orang yang hebat dan kuat tanpa bantuan siapapun semenjak kematian ibu kalian. Ibu kalian pasti sangat bahagia dan bangga saat melihat kalian yang sekarang." ibu pemilik kontrakan mencoba menghibur Hiro.
"iya, sekarang katakan apa yang ingin Mpok bicarakan denganku?" tanya Hiro kepada ibu pemilik kontrakan.
Ibu pemilik kontrakan memberikan sebuah map kertas di tangannya kepada Hiro. "coba nak Hiro baca ini! Nanti bibi jelaskan apa maksud dari kedatangan bibi ke sini."
Hiro mengambil map kertas itu lalu melihat isinya. Hiro membaca kertas kertas yang ada di dalam map itu. "panti asuhan? Mpok.. Berencana mengirimkan kami ke panti asuhan?" Tanya Hiro.
"mpok.. Ingin kalian mendapatkan banyak keluarga di sana. Selama ini kalian pasti kesepian hanya berdua saja menempati rumah i—"
"tidak, katakan sejujurnya padaku! Mpok, Tidak ingin mengurus dan membantu kami lagi ya? Kalau begitu tidak apa apa. aku sering berkelahi di sekolah dan pasar itu pasti telah banyak merepotkan mpok. Karena ulahku mpok sering didatangi oleh orang marah marah karena aku menghajar anaknya. Namun, kenapa mpok mengirim kami ke panti asuhan? Aku bisa kok menghidupi adikku dan membayar biaya kontrakan ini a—"
Ibu pemilik kontrakan memeluk erat Hiro sehingga membuat Hiro kebingungan. "mpok, kenapa?"
"mpok sangat sayang kepada kalian berdua. Sejujurnya mpok ingin hidup bersama kalian selamanya. Namun, mpok sadar bahwa kalian berdua akan bersedih ketika mengingat kenangan tentang ibu kalian di rumah yang sepi ini. Jadi, mpok berpikir bahwa kalian akan bahagia saat bersama anak anak panti dan melupakan kesedihan kalian ini."
"tapi, mpok a—"
"Hiro demi mpok berjanjilah bahwa kau akan tinggal di panti untuk satu bulan saja mpok ingin kalian bahagia walaupun tidak sedang bersama mpok." ibu pemilik kontrakan menatap sendu mata Hiro penuh dengan pengharapan.
"untuk satu bulan saja ya? Baiklah.. Aku dan Rianty akan tinggal di panti asuhan selama satu bulan. Namun, setelah lewat satu bulan. mpok harus menjemput kami di sana lalu membawa kami pulang kembali ke sini atau aku akan kabur dari panti asuhan itu sambil membawa Rianty untuk pulang kembali ke sini."
"iya, Hiro berjanjilah untuk berteman baik pada semua anak di panti asuhan dan menghormati pengurus panti asuhan itu. Jadilah anak yang baik dan teruslah bahagia bersama adikmu."
"iya, aku berjanji." Hiro melepaskan pelukan ibu pemilik kontrakan dari tubuhnya. "sekarang aku ingin pergi ke pasar untuk—"
"Hiro, untuk hari ini saja. Mpok ingin kau dan adikmu pergi jalan jalan bersama mpok ke pusat kota untuk merayakan kelulusanmu." pinta ibu pemilik kontrakan.
"hah? Terus bagaimana dengan pekerjaanku?"
"mpok akan membayar tiga kali lipat dari upah pekerjaanmu. Kau mau kan?" tanya ibu pemilik kontrakan kembali.
"tiga kali lipat? Baiklah, Aku mau."
"hm.. Kau terus memakai kacamata hitam pemberian ibumu itu ya.. Hiro?" ibu pemilik kontrakan melihat kacamata hitam di mata Hiro.
Hiro melepaskan kacamatanya.
"kenapa kau lepas? pakailah kembali kacamatamu!"
Hiro memalingkan wajahnya. "mpok kenapa ya.. aku merasa aneh saat memakai kacamata ini. Rasanya aku ingin sekali menangis. Kacamata ini membuatku lemah."
Ibu pemilik kontrakan mengambil kacamata itu lalu memakaikannya di mata Hiro. "kau salah, kacamata ini melengkapimu. Jika kau masih bisa menangis itu berarti kau masih sempurna, Hiro." ibu pemilik kontrakan mengelus rambut Hiro. "panggil Rianty! Kita berangkat sekarang!"
"kita berangkatnya sekarang?"
"iya, jadi pakailah baju terbagus kalian. Mpok ingin kalian bersenang senang hari ini."
"iya, baiklah.." Hiro berlari ke dapur memanggil Rianty lalu menceritakan semuanya padanya. Rianty mematikan kompor yang sedang memasak makanannya dan bersama dengan Hiro melangkah masuk ke kamar mereka. Hiro dan Rianty berganti baju lalu berjalan mendekati ibu pemilik kontrakan.
Ibu pemilik kontrakan memegang tangan Hiro dan Rianty lalu berjalan keluar dari rumahnya menuju mobil milik ibu pemilik kontrakan yang terparkir di depan gang rumah Hiro.
Hari itu mereka berangkat ke ibu kota lalu bersenang senang di sana. Ibu pemilik kontrakan membelikan baju dan barang barang untuk Hiro dan Rianty. Mereka ke berbagai tempat bermain dan bersenang senang di sana. Mereka lalu makan makanan enak di restoran. Pokoknya hari itu mereka sangat bergembira sampai tidak terasa sudah petang dan mereka pulang kembali menaiki mobil milik ibu pemilik kontrakan.
Hiro dan Rianty tidur di dalam mobil selama perjalanan pulang. Ibu pemilik kontrakan hanya tersenyum melihat mereka berdua.
Beberapa hari kemudian.
Hiro dan Rianty keluar dari rumah kontrakannya. Hiro membawa koper besar berisi semua pakaian dan barang miliknya dan Rianty.
Di sana terlihat Abimanyu, Satya, beserta semua anak SMP dan orang pasar mengantarkan kepergian Hiro. "kenapa mereka semua ada di sini?" batin Hiro kebingungan.
Abimanyu dan Satya berjalan mendekati Hiro dan Rianty. "bang Hiro, jangan lupakan aku ya! Rianty kapan kapan kalian datang ke sini lagi kan?"
"bang Hiro, jangan lupakan kami ya! Kami pasti akan selalu mengingat bang Hiro," ucap salah satu anak SMP yang ada di sana.
"nak.. Hiro, kau adalah anak yang hebat dan baik. Kau pasti akan hidup bahagia di mana pun kau berada," ucap salah satu orang pasar di tempat yang sama dengan Hiro biasa bekerja.
Hiro dan Rianty melihat semua orang di sekelilingnya. Dia merasa bingung karena melihat wajah mereka yang sedih dan ada beberapa yang menangis. "kalian semua lebay banget sih, aku cuma mau pindah bukan mati. Jadi, berhentilah menangis. Lagian ngapain kalian semua ada di sini?" teriak Hiro.
"mpok Yang mengundang mereka ke sini. Mereka pasti ingin mengantarkan kepergianmu. Ayo pergi Hiro! Rianty!" ibu pemilik kontrakan memegang tangan Hiro dan Rianty lalu berjalan ke arah mobil milik ibu pemilik kontrakan. Ibu pemilik kontrakan memasukkan koper Hiro ke dalam bagasi mobil. Mereka bertiga lalu masuk ke dalam mobil.
"mpok, ngapain sih manggil mereka ke sini?" tanya Hiro.
"mpok memanggil mereka ke sini agar bisa mengantarkan kepergianmu." jawab ibu pemilik kontrakan.
Ibu pemilik kontrakan mulai melajukan mobilnya. Hiro melihat ke belakang lalu melihat semua orang terlihat sedih atas kepergiannya. Hiro mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. "aku cuma mau pergi ke panti asuhan bukannya pergi ke akhirat. Jadi, kalian semua jangan lebay!" teriak Hiro.
"abang Hiro, sudahlah! Mereka mungkin sedih karena tidak akan bertemu kita selama sebulan ke depan," ucap Rianty.
"cih.. drama. Lagian kenapa sih semua barang barang kami dibawa ke sana bukannya kami di sana cuma sebulan ya?" tanya Hiro.
"iya, mpok berpikir mungkin untuk awal awal kalian akan merasa bosan di sana. Jadi, mpok menyuruh kalian untuk membawa semua barang kalian," jawab ibu pemilik kontrakan.
Hiro berdecak sebal. "merepotkan," ketus Hiro.
Selama perjalanan Hiro hanya diam sambil melihat hal berlalu lalang dari kaca mobil. Sedangkan Rianty tidur di bahunya Hiro setelah mengatakan bahwa kepalanya pusing saat menaiki mobil.
Ibu pemilik kontrakan menghentikan mobilnya. "Hiro, Rianty, ayo turun kita sudah sampai!" ibu pemilik kontrakan turun dari mobil.
"Rianty, Hey. Bangunlah! Kita sudah sampai." Hiro mengoyang goyangan tubuh Rianty agar dia bangun.
Rianty membuka matanya. Dia bangun lalu mengusap matanya. "kita udah sampai ya.. Bang?"
"iya, kita udah sampai. Jadi, ayo turun!" jawab Hiro.
Rianty menganggukkan kepalanya. "iya, ayo." Hiro dan Rianty keluar dari mobil. Mereka melihat ibu pemilik kontrakan sedang mengeluarkan dua koper dari bagasi mobilnya. "Hiro, bawa ini ya!" ibu pemilik kontrakan memberikan satu koper itu kepada Hiro.
Hiro mengambil koper itu. Hiro Bingung saat melihat satu koper lagi yang dipegang oleh ibu pemilik kontrakan. "koper kami hanya satu. Koper yang satunya ini apa mpok?"
"koper yang ini berisi barang barang yang mpok berikan kepada kalian karena telah setuju tinggal di sini untuk satu bulan," jawab ibu pemilik kontrakan. "ayo!" ibu pemilik kontrakan memegang tangan Rianty dan tangan satunya membawa koper sedangkan Hiro membawa koper satunya lalu berjalan di sampingnya ibu pemilik kontrakan. Mereka berjalan memasuki pekarangan dari sebuah bangunan yang di depannya bertuliskan panti asuhan kota sanjaya.
"nak Hiro, Rianty kalian tunggu di sini! Mpok mau masuk ke dalam dulu."
"baik mpok." Hiro dan Rianty menuruti perkataan ibu pemilik kontrakan mereka berdua menunggu di depan bangunan itu sedangkan ibu pemilik kontrakan masuk ke dalam.
Rianty menarik pelan baju Hiro. "bang, aku pusing dan juga mual."
"kau pasti mabuk kendaraan." Hiro mengusap rambut Rianty pelan.
Rianty mual lalu hendak muntah. Namun, dia menahannya agar tidak keluar. Hiro dengan cekatan mengeluarkan kantong plastik yang dia bawa dari rumah karena tahu bahwa Rianty itu mabuk kendaraan. "jangan ditahan muntahkan aja semuanya." Hiro membuka kantong plastik itu di depan mulut Rianty.
Rianty memegang kantong itu lalu muntah ke dalamnya.
Setelah Rianty selesai. Hiro mengikat kantong itu lalu Hiro melihat ke sekeliling untuk mencari tempat agar bisa membuang kantong itu. Hiro melihat tiga tempat sampah yang berjejeran. Dia berjalan mendekati tempat sampah itu lalu melemparkan kantong yang dipegangnya.
Hiro berjalan kembali mendekati Rianty. "Teratai, apakah kau sudah mendingan?"
"aku masih pusing kak,"
Hiro duduk dengan kaki berselonjor lantai. "Rianty, duduklah di sini! siapa tahu pusingmu akan hilang saat kau duduk." Hiro menarik tangan Rianty agar duduk di bagian kakinya. "duduklah di atas kakiku! dengan begitu celanamu tidak akan kotor."
Rianty duduk di atas paha Hiro dengan posisi miring. Hiro mengusap pundak belakang ke bawah berulang terus menerus. "apakah kau sudah mendingan?"
Rianty tersenyum menatap Hiro. "iya, sepertinya pusingku sudah berkurang."
Hiro tersenyum bahagia. "aku takut sekali jika kau akan rusak juga,"
"hey.. Kalian berdua yang ada di sana. Kalian berdua harus tanggung jawab."
Hiro dan Rianty menoleh ke asal suara itu lalu melihat seorang anak laki laki sedang menunjuk Hiro.
Rianty dan Hiro segera berdiri. "kami? Apakah kau punya urusan dengan kami?" Hiro berjalan mendekati anak itu sambil mentamengi Rianty di belakangnya.
"kalian berdua telah melakukan kesalahan kalian telah memasukkan sampah non organik ke tempat sampah organik oleh karena itu cepat perbaiki kesalahan kalian," ucap anak laki laki itu.
"sebelumnya maaf. Namun, sepertinya kau salah paham. Yang kubuang itu adalah sampah organik."
"organik dari mananya kantong plastik itu jelas jelas adalah sampah non organik. Cepat kalian ambil kembali sampah itu lalu letakkan di tempat yang seharusnya."
"hm.. Kenapa kau begitu peduli dengan hal payah seperti itu. Apakah kau salah satu anak di panti asuhan ini?" tanya Hiro.
"aku memang bukan anak dari panti asuhan ini. Namun, aku memiliki banyak teman di panti asuhan ini dan aku sudah menanggap panti asuhan ini seperti rumahku sendiri."
"huh.. Jadi kau bukan penghuni tempat ini. Kalau begitu ini tidak ada urusannya denganmu. Pergilah dari sini!" usir Hiro.
"walaupun aku bukan anak dari panti asuhan ini. Tapi, aku tetap tidak akan membiarkan kalian berbuat seenaknya di sini."
Hiro tersenyum. "Cih.. Bocah ini keras kepalanya sekali ya.." Hiro hendak berjalan mendekati anak laki laki itu. Namun, Rianty segera menahan Hiro.
"abang Hiro, bang Hiro nggak boleh berantem!" bisik Rianty.
"Cih.. Aku tidak salah. Aku benar benar telah masukkan sampahku ke tempat yang benar." kekeh Hiro.
"tidak, sampah plastik itu adalah sampah non organik. Namun, kau memasukkannya ke tempat sampah organik,"
"buktikan jika yang aku masukkan ke tempat sampah itu adalah sampah plastik!" tantang Hiro kepada anak laki laki di depannya.
"oke akan aku buktikan." anak laki laki itu mendekati tempat sampah lalu mengambil sampah yang tadi dibuang oleh Hiro. Namun, karena dia mengambilnya secara sembarangan isi kantong itu mengenai bajunya. Anak laki laki itu lalu mencium bajunya. "hueek menjijikkan." anak laki laki itu merasa mual lalu melempar kembali kantong plastik itu ke tempat sampah.
"itu adalah muntahan adikku. Muntahan juga termasuk sampah organik kan?" ucap Hiro dengan nada datar.
Anak laki laki itu terkejut mendengar ucapan Hiro. "hueek jorok. Ini adalah muntahan adikmu?" anak laki laki itu melihat Rianty yang bersembunyi di belakang Hiro. "itu berarti ini muntahan anak itu ya.. Sial." anak laki laki itu berjalan mendekati Hiro dan Rianty dengan perasaan kesal. "aku akan membalasmu. Aku tidak terimakasih terkena mun—"
Hiro mencekik anak laki laki itu lalu mendorongnya sehingga membuat anak itu mundur jauh ke belakang. "kau mau apa? Sedikit saja kau menyentuh adikku maka kau akan kubunuh." Hiro menatap tajam anak laki laki itu.
Anak laki laki itu gemetar saat ditatap oleh Hiro. Namun, dia memantapkan hatinya. "aku tidak takut padamu. Aku bisa beladiri lho."
"beladiri? Kalau begitu tunjukkan beladirimu padaku!" Hiro berlari ke arah anak laki laki itu lalu mencoba memukulnya. Namun, tidak kena karena Anak laki laki itu segera berlari meninggalkan Hiro sambil menangis dan berteriak ketakutan. Hiro terus mencoba mengejar anak laki laki itu. Namun, Hiro berhenti saat anak laki laki itu berlari keluar dari wilayah pekarangan bangunan panti asuhan.
Hiro melihat ibu pemilik kontrakan keluar dari bangunan itu. "Hiro, Rianty, ayo masuk! Bawa juga koper kalian!" ucap ibu pemilik kontrakan.
Hiro dan Rianty masuk bersama ibu pemilik kontrakan ke dalam bangunan panti asuhan itu. Dia sana terlihat seorang wanita paruh baya dan anak anak kecil sedang berkumpul di sana menyambut kedatangan Hiro dan Rianty.
"nah.. Hiro, Rianty mereka adalah anak anak yang akan menjadi teman Hiro dan juga Rianty selama kalian tinggal di sini." ucap Mpok.
Semua anak anak itu menyapa Hiro dan juga Rianty dengan senyuman senang.
"oh," respon Hiro.
Sedangkan Rianty tersenyum, merasa senang saat melihat semua anak anak di sana.
"mpok harap kalian bisa berteman baik dengan mereka semua selama kalian tinggal di sini ya." ucap ibu pemilik kontrakan memperlihatkan semua orang di sana kepada Hiro dan Rianty.
"baik, mpok.." Rianty tersenyum.
"iya," jawab Hiro.
"bu.. Mereka berdua adalah anak yang baik. Tolong urus mereka dengan baik ya! Hiro, memang termasuk anak yang suka berantem. Namun, dia hanya berantem jika diganggu duluan sedangkan Rianty adalah anak yang terbuka dia bisa berteman dengan siapa saja." ibu pemilik kontrakan memeluk wanita paruh baya itu lalu berbisik di telinganya.
"aku selalu berdoa untukmu. Baiklah.. Mereka berdua akan aku urus dan aku sayangi sepenuh hatiku," ucap wanita paruh baya itu.
"terimakasih." ibu pemilik kontrakan beralih ke Hiro dan Rianty. "Hiro, jangan nakal ya selama ada di sini! Jangan berantem sama anak anak di sini! Jika ada anak kecil yang membuat Hiro kesal jangan dipukul didiemin aja. Pokoknya Hiro harus bisa berteman dengan semua anak di sini." pesan ibu pemilik kontrakan.
"jika ada yang menggangguku dan menyakiti Teratai maka aku akan membunuhnya," ucap Hiro.
Ibu pemilik kontrakan segera menutup mulut Hiro. "Hiro, kau nggak boleh ngomong kayak begitu nak! Hiro kan sudah dewasa pasti sudah bisa membedakan mana yang sungguhan dan mana yang cuma bercanda. Jika nanti terlintas di pikiranmu untuk menyakiti anak di sini. Tanya dulu sama bibi itu dan Rianty lalu katakan alasannya kenapa kau ingin memukulnya. kalau mereka mengizinkan Hiro baru boleh memukulnya, Hiro paham kan?"
"Cih, iya." jawab Hiro sambil memalingkan wajahnya cuek.
Ibu pemilik kontrakan membelai pipi Rianty. "Rianty kau juga baik baik di sini. Jika nanti kakakmu marah, kau harus bisa menenangkannya ya! Mpok yakin Rianty bisa berteman dengan semua orang di sini. Jadi, mpok ingin Rianty menjaga abang Hiromu supaya nggak berbuat nakal dan berantem di sini." ibu pemilik kontrakan mengusap kepala Rianty.
Rianty tersenyum. "hehe.. Iya, mpok."
"baiklah.. Mpok pamit ya. Ingat semua pesan mpok tadi. Hormatilah bibi itu sama seperti kalian menghormati mpok! Jangan nakal dan merepotkan bibi itu!" ibu pemilik kontrakan berpamitan dengan Hiro dan Rianty. Ibu pemilik kontrakan berjalan ke pintu keluar. Dia berbalik badan lalu mengucapkan selamat tinggal setelah itu benar benar pergi meninggalkan Hiro dan Rianty di sana.
"nak Hiro, nak Rianty selamat datang di panti asuhan kami. Nama bibi Aina. Panggil saja bi Aina." ketua panti asuhan itu memperkenalkan dirinya. Dia lalu merangkul seorang gadis kecil seumuran Rianty. "ini anak bibi, namanya adalah Claudya laila cakrawati. Panggil saja Claudya."
"iya, namaku adalah Claudya. Aku sangat senang karena bisa mendapatkan satu teman lagi yang seusia denganku." Claudya tersenyum lebar melihat Hiro dan Rianty. "kita pasti akan menjadi teman dekat."
"aku akan membayar semua biaya selama aku tinggal di sini bersama adikku. Aku akan bekerja untuk membayar biaya makanan dan biaya sewa tempat tidur selagi kami tinggal di sini," ucap Hiro.
"hah.. Apa yang katakan? Membayar? Bekerja? Kau masih kecil bagaimana bisa bekerja? Kau harus tumbuh besar seperti kak Arlan dan yang lainnya baru bisa bekerja." Claudya terlihat kebingungan dengan perkataan Hiro.
"nak Hiro. Kau tidak perlu membayar apapun kepada kami. Kami semua di sini sangat senang bisa bersama denganmu di sini," ucap bi Aina.
"aku tidak mau berhutang budi kepada siapa pun," ucap Hiro dingin seolah tidak memberikan ruangan untuk akrap kepada siapapun.
Bi Aina mengusap rambut Hiro. "nak.. Kau masih belum terbiasa ya.. Baiklah. Ayo bibi antar kalian ke kamar kalian masing masing."
"iya, baiklah.. Ayo!"
"Ibu, Rianty akan tidur sekamar denganku, Sherly dan Neruka kan? Jadi, biarkan aku saja yang mengantarnya." Claudya mengandeng tangan Rianty. "sebelum itu aku ingin berkenalan dan bermain bersama Rianty terlebih dahulu."
Hiro memegang bahu Claudya erat sambil menatapnya tajam. "jauhkan tanganmu dari adikku!"
Claudya segera berlari ke belakang ibunya karena takut kepada Hiro.
"bang tenanglah! Dia hanya ingin bermain dengan Aku aja kok. Dia tidak akan menyakitiku." Rianty mencoba menenangkan Hiro.
Hiro mulai tenang. "kau." Hiro menunjuk Claudya. "boleh bermain bersama adikku. Namun, berjanjilah bahwa kau tidak akan berbuat macam macam dan menyakiti adikku selama bermain atau kau akan aku—" Rianty segera menutup mulut Hiro. "maaf, maaf, maafkan abangku."
"iya, aku berjanji. Aku tidak akan menyakiti adikkmu. Aku hanya ingin berteman dan bermain bersamanya." Claudya menatap Hiro ketakutan dari balik tubuh ibunya.
"hm.. Bermainlah bersama Teratai! Ayo bi, Tunjukkan padaku dimana kamarku?!" Hiro menatap Aina di depannya.
"hm.. Baiklah.. Ayo ikuti bibi!" Bi Aina memegang tangan Hiro dan membawa salah satu koper dengan tangan satubya sedangkan Hiro berjalan mengikuti Aina sambil membawa koper berisi baju di tangannya yang satunya.
Aina mengajak Hiro ke lantai atas lalu memasuki sebuah kamar. "ini adalah kamarmu nak. Kau akan berbagi kamar dengan Arlan."
"Arlan siapa itu?" tanya Hiro.
"Arlan adalah kakak tertua di anggota keluarga panti asuhan ini. Sekarang ini dia sedang bekerja bersama yang lainnya. Jadi, sekarang ini dia sedang tidak ada di panti asuhan ini." Bi Aina menjelaskan kepada Hiro.
"hm.. Apakah dia sudah tahu kalau aku akan tinggal di sini?" tanya Hiro.
"dia sudah tahu. Namun, sayang sekali dia tidak bisa menyambutmu karena pekerjaannya." jawab Bi Aina.
"hm.. Begitu ya.."
"baiklah.. Sekarang ayo kita membereskan barang barangmu." bi Aina hendak membuka tas Hiro.
"aku bisa sendiri." Hiro menutup kembali tasnya.
"hm.. Baiklah Kalau begitu kau bibi tinggal ya.. Kalau kau membutuhkan apa apa atau ingin bertanya sesuatu segera panggil bibi." bi Aina keluar dari kamar itu tidak lupa menutup pintunya.
"aku terlalu kasar ya? Sudahlah." Hiro duduk di sebuah kursi yang ada di sana lalu memperhatikan ruangan kamar itu. Hiro melihat semua sudut ruangan itu yang dia rasa cukup rapi. Hiro melirik laptop yang berada di atas meja yang ada di depannya. "benda mahal? Hm.. Aku tidak tahu apa ini. Namun, kayaknya cara kerja benda ini sama seperti game ular yang dulu pernah dipinjamkan oleh bocah itu kepadaku." Hiro melihat berbagai benda yang cukup asing di matanya di dalam kamar itu. "kamar ini penuh benda benda mahal yang tidak berguna. Buang buang uang saja. Sepertinya penghuni kamar ini sangat menikmati kesendiriannya apakah dia benar benar menerima kehadiranku di sini?" batin Hiro.
Hiro membuka lemari kecil di samping tempat tidur tingkat itu. "dikunci?" Hiro tidak dapat membuka lemari itu. Hiro melihat ke arah tempat tidur tingkat itu terdapat sebuah tas di sana. Hiro lalu menaiki tangga untuk ke atas tidur tingkat itu lalu melihat tidak ada apapun di sana. "sepertinya ini tempat tidurku."
Hiro turun dari tempat tidur lalu berjalan mendekati sebuah lemari pakaian di kamar itu lalu membukanya. Hiro melihat di dalam lemari itu penuh dengan pakaikan benda benda yang asing di matanya. "dimana aku harus meletakkan pakaianku?" batin Hiro.
Hiro duduk sebentar di tempat tidur untuk beristirahat. "tempat ini pasti adalah tempat yang biasa saja. Namun, aku yang tidak terbiasa di sini merasa sangat tertarik dengan tempat ini. Huh.. Aku tidak boleh begini! Aku harus mendapatkan uang secepatnya." Hiro mengambil kopernya lalu meletakkan koper itu di bagian atas tempat tidur tingkat lalu berjalan keluar dari kamar.
Hiro turun ke bawah lalu berjalan mendekati bi Aina yang ada di sana. "bi," panggil Hiro.
Bi Aina menengok Hiro. "ya.. Ada apa nak?"
"bi, apakah di depat sini ada pasar?" tanya Hiro.
"pasar ya..? Ada cuma cukup jauh pasar itu berada di distrik barat memangnya ada apa? Kau ingin membeli sesuatu di pasar?" Bi aina menatap Hiro sambil tersenyum tipis.
"tidak, aku ingin ke sana. siapa tahu nanti ada orang yang membutuhkan tenagaku supaya aku bisa dapat uang." jawab Hiro.
Bi aina memegang bahu Hiro lalu tersenyum kepadanya. "haha.. Kau sangat dewasa ya.. Walaupun masih mudah kau sudah punya pikiran untuk mencari uang sendiri. Namun, bibi tidak ingin kau bekerja selama berada di sini karena mpokmu ingin kau bermain dan bersantai di sini setidaknya untuk satu minggu pertamamu. Jadi, bibi tidak mengizinkanmu untuk bekerja, nak Hiro."
"cih.. Dasar mpok seenaknya saja mengaturku. Jadi, apa yang harus aku lakukan selama aku berada di sini?" tanya Hiro kebingungan.
"hm.. Mungkin kau bisa bermain bersama Claudya dan anak anak yang lainnya di sini dan membantu bibi beres beres rumah." jawab Bi Aina.
"apakah ada pekerjaan rumah yang bisa aku kerjakan sekarang bi?" tanya Hiro, dia benar benar tidak ingin menjadi beban di tempat ini.
"haha, kau benar benar langsung cepat tanggap ya." bi Aina mengusap rambut Hiro.
"aku akan melakukan apapun agar tidak menjadi beban dan merepotkan di rumah ini," ucap Hiro dengan nada yang dingin.
"kau memiliki pemikiran yang sangat dewasa, Hiro. Namun, kau masihlah anak kecil. jangan pernah membunuh masa kecilmu karena kau tidak akan bisa mengulangi lagi. Kau harus berteman dan bermain bersama anak seusiamu agar kau memiliki masa masa indah dalam hidupmu." nasehat bi Aina.
Hiro memiringkan kepalanya kebingungan. "apa yang bibi bicarakan? Apakah bibi bisa menjelaskan lebih detail?" Hiro melihat sekeliling ruangan itu. Dia tidak melihat siapa pun di sana. "dimana adikku bi?" tanya Hiro panik.
"hm.. Seperti Rianty diajak oleh Claudya bermain ke hutan yang ada di belakang panti asuhan ini. Mereka semua sudah biasa bermain di sana, Hiro." bi Aina melihat Hiro segera berlari keluar dari panti asuhan itu.
"huh.. sial Kenapa dia mengajak adikku ke hutan? Bagaimana nanti jika ada binatang buas yang menyerang Teratai. Aku benar benar akan membunuh anak itu." Hiro berjalan memasuki hutan itu. "Rianty, dimana kau? Jawab aku!" teriak Hiro.
Hiro mendengar sebuah bunyi dari atas pohon yang ada di sebelah sehingga membuat dia melihat ke atas. saat Hiro menengok ke atas terdapat seorang anak yang terjatuh sambil berteriak Hiro dengan refleks mencoba menangkap anak itu, dan Hiro berhasil menangkap anak itu. Tapi, karena tidak seimbang Hiro malah terjatuh lalu ditimpa oleh anak itu.
"kau baik baik saja?" Hiro menatap anak perempuan yang sedang terbaring di atas tubuhnya itu.
Anak itu segera berdiri lalu membersihkan pakaiannya. "Maaf dan terima kasih."
Hiro berdiri lalu melihat anak itu. "kau ngapain di atas sana? Mau bunuh diri?"
"tidak, aku cuma sedang tidur di dahan pohon itu. Aku kaget saat mendengar suara teriakanmu lalu terpeleset dan jatuh." anak perempuan itu memperhatikan wajah Hiro secara seksama. "kau siapa? Dan kenapa ada di sini?"
"namaku Hiro. Aku sedang mencari adikku di sini. Apakah kau melihatnya?" tanya Hiro kepada anak perempuan itu.
"adikmu? Siapa adikmu?" tanya anak perempuan itu kebingungan.
"adikku, Rianty. Apakah kau melihatnya?" tanya Hiro.
"aku tidak mengenal siapa adikmu. Jadi, aku tidak tahu," jawab gadis itu.
"hm.. Begitu ya."
"abang."
Hiro mendengar suara teriakan Rianty. Hiro langsung menengok asal suara itu. Hiro melihat Rianty yang sedang berlari ke arahnya dan di belakangnya terlihat Claudya dan anak cowok yang ada di depan panti asuhan tadi dan satu lagi anak cewek berkacamata.
Rianty mendekati Hiro. "bang Hiro, di sini sangat menyenangkan. Aku tadi bermalam petak umpet bersama kak Rayyan, Claudya, dan juga dek Sherly." Rianty tersenyum senang.
Hiro mengusap wajah Rianty. "kau baik baik saja? Kenapa kau ke sini tanpa sepengetahuanku? Bagaimana kalau nanti ada binatang buas yang akan menyerangmu di dalam hutan ini. Jangan membuatku khawatir Teratai!" marah Hiro.
"Neruka, apa yang terjadi? Kami tadi mendengar suara teriakan dari sini oleh karena itu kami semua segera pergi ke sini."
"aku tadi jatuh dari po—" ucapan Neruka terhenti. Secara tiba tiba Hiro mencengkeram kerah baju Claudya lalu mengangkat tubuh Claudya. "aku sudah memperingatkanmu untuk tidak berbuat macam macam selama bermain dengan adikku. Tapi, sepertinya kau meremehkanku. Aku akan membuatmu berpikir dua kali untuk melakukan hal yang seperti ini lagi." Hiro hendak memukul Claudya.
"hey, lepaskan kau ini apa apaan sih? Jangan kasar sama anak panti asuhan ini!" Rayyan mendorong Hiro sehingga membuat Hiro melepaskan Claudya.
Hiro berbalik mencekik Rayyan lalu mendorongnya sehingga membuat Rayyan terdorong jauh. "jangan ikut campur bocah sial*n. Kau mau kubunuh?" ancam Hiro.
Sherly dan Neruka berdiri di depan Claudya yang sudah menangis.
"kakak adalah kakaknya kak Rianty kan? Jika kak Rianty baik kenapa kakaknya kak Rianty tidak baik. Jangan menyakiti kak Claudya lagi." teriak Sherly.
Hiro memiringkan kepalanya. "minggir! Jika aku tidak akan berhenti sampai aku menghukumnya atas kesalahannya."
"huh.. Kukira kau adalah orang baik. Namun, ternyata kau adalah anak paling nakal di sini. Aku membencimu karena sudah mencoba menyakiti Claudya." Neruka menenangkan Claudya yang menangis dengan memeluknya.
"bang Hiro, udah bang! Jika bang Hiro mau marah, Marahi saja aku! Claudya dan yang lainnya cuma ingin mengajakku bermain. Jadi, mereka tidak salah. Ini semua adalah salahku." Rianty mencoba menahan Hiro mengunakan tubuhnya.
Rayyan kembali dengan wajah yang memerah karena menahan tangis. Dia berdiri di depan Claudya dan yang lainnya untuk melindungi mereka. "aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Claudya dan yang lainnya. Kau boleh memukulku. Tapi, aku akan memukulmu juga. Aku adalah penjaga dan pelindung semua orang di panti asuhan ini," teriak Rayyan.
Hiro mendorong Rianty menyingkir dari jalannya. Hiro menarik baju Rayyan lalu menghantamkan keningnya ke wajah Rayyan yang seketika membuat Rayyan terhuyung kesakitan. Rayyan menangis lalu memukuli Hiro bertubi tubi. Namun, pukulan Rayyan tidak terlalu terasa di tubuh Hiro. Hiro mengepalkan tangannya kuat kuat lalu hendak memukul Rayyan.
Rayyan sudah berteriak ketakutan sambil mencoba menahan dengan meletakkan kedua tangannya di depan wajah. Namun, Hiro tiba tiba ambruk tidak sadarkan diri.
***
Hiro terbangun di atas tempat tidur tingkat bagian atas. Dia mendapati tangan dan kaki terikat dengan tali. "huh.. Sial apa apaan ini? Lepaskan aku!" Hiro mengeliat geliat mencoba melepaskan diri.
"huh.. Kau sudah bangun? Tadi kau benar benar sangat lucu. Namun, sayangnya itu masih belum cukup untuk membuatmu dimaafkan olehnya." Hiro mendengar suara dari tempat tidur tingkat bagian bawah.
"siapa kau? Lepaskan aku! Aku akan menghajarmu jika aku berhasil melepaskan ikatan ini." Hiro memberontak berusaha untuk menarik tali itu dengan tenaganya. Namun, itu sia sia Hiro tetap saja terikat.
"jangan terlalu heboh di atas sana! Jika seandainya nanti kau terjatuh ke bawah lalu cedera itu bukanlah salahku."
"kau itu siapa sih?" Hiro bergeser perlahan ke ujung tempat tidur. Hiro berbaring lalu menengok ke bawah untuk melihat tempat tidur di bawahnya. Hiro melihat seorang berbaring di sana wajahnya ditutupi oleh buku sehingga Hiro tidak bisa melihatnya dengan jelas. "hey.. Katakan siapa dirimu atau aku akan meludahimu!"
Laki laki itu bangkit lalu memegang wajah Hiro. "meludahiku? Kau benar benar kurang ajar ya.. Melihat dirimu aku teringat dengan maniak game itu. Huh.. Apakah kalian tidak tahu bahwa meludah itu jorok?" laki laki itu menekan wajah Hiro.
"lepaskan aku!" marah Hiro.
Laki laki itu melepaskan Hiro lalu berdiri. "aku akan menyiksamu jika kau sampai meludahiku. Aku tidak suka hal yang jorok." laki laki itu menatap wajah Hiro datar.
"apa maumu? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Hiro.
"apakah pantas pertanyaan itu keluar dari mulut anak nakal yang hobi berantem sepertimu? Hiro." Lelaki itu menekan nekan pipi Hiro sambil tersenyum tipis.
"aku tanya siapa kau? Kenapa kau mengikatku di sini?" teriak Hiro.
"huh.. Anak ini memang tidak tahu atau tidak mau mengakuinya sih? Hiro, kau ingin memukul Claudya dan itu adalah hal yang paling tidak boleh kau lakukan di sini. Jadi, aku mengikatmu di sini untuk menghukum dirimu."
"orang yang tidak jelas ini, memangnya kenapa jika aku ingin memukul anak itu. Dia sudah berani berbuat macam macam dengan adikku. Jadi, aku ingin memukulnya supaya dia tidak lagi berani semena mena pada kami. Aku tidak ingin diremehkan!" teriak Hiro.
Laki laki itu menampar Hiro keras sehingga membuat Hiro meringis kesakitan. "itu peraturanmu kan. Jadi, jangan marah karena kau juga mencoba menyakiti adikku yang sudah susah payah kubuat selalu bahagia."
"sial.. Aku akan membunuhmu jika aku lepas dari ikatan ini orang aneh." ancam Hiro.
"aku adalah kakak tertua di panti asuhan ini. Namaku adalah Arlan terserah kau mau memanggilku apa. Namun, kuberitahu kau bahwa bukan cuma kau punya masalah di sini. Namun, tidak sepertimu anak kecil mereka tidak melampiaskan amarah mengenai masalah itu terhadap orang lain." teriak Arlan di depan wajah Hiro.
"apa maksudmu?"
"Claudya itu memiliki penyakit mental yang dia dapatkan dari trauma yang membuat dia menganggap cowok itu makhluk yang jahat. Perlahan lahan dia sudah mulai sembuh dari penyakitnya oleh karena itu dia sama sekali tidak boleh disakiti apalagi oleh cowok." Arlan menekan kedua sisi pipi Hiro sambil menatap anak itu dingin.
"cih.. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin melindungi adikku," ucap Hiro tidak peduli dengan hal itu. Karena dia hanya ingin melindungi Rianty.
Arlan menyentil kening Hiro keras. "kau memang harus melindungi adikmu menggunakan cara apapun. Namun, lihat dulu apa masalahnya, Jangan langsung main pukul aja! Jika kau terus melindungi adikmu seperti ini dengan tidak memperbolehkannya bebas dan bermain dengan teman temannya, dengan alasan kau khawatir dia kenapa napa itu sama saja kau mengekang dan merengut kebahagiaan dan masa kecilnya. Dia akan menjadi sampah di masa depan lalu perlahan lahan akan mati dengan sendirinya dan itu semua karena dirimu."
Hiro terdiam. "Teratai mati? Karena diriku? Aku tidak akan membiarkan Rianty mati. Aku akan melakukan apapun supaya dia tidak mati. Aku akan—" Hiro memberontak. Namun, Arlan segera menutup mulutnya.
"iya, aku tahu bahwa kau tidak ingin adikmu mati oleh karena itu berhentilah melindunginya dengan menggunakan cara semacam ini karena ini benar benar tidak efektif dan membunuhnya secara perlahan." jelas Arlan dan membuka kembali mulut Hiro.
"baiklah.. Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Hiro, dengan tatapan mata yang tidak rela jika Rianty kenapa napa.
Arlan berbalik badan lalu tertawa. "hah.. Kalian berdua benar benar mirip bahkan cara melindungi kalian berdua pun juga sama sama mirip." batin Arlan dia lalu kembali menghadap Hiro. "aku sudah mendengar semuanya dari bibi dan juga yang lainnya. "Hiro, jangan terlalu membiarkan adikmu bebas dan juga jangan terlalu mengurungnya."
"hm.. Jadi, aku harus bagaimana?"
"lakukanlah sewajarnya. Jadikan dia orang yang berguna dengan membuat dia kuat. Jangan bela dia saat dia memang salah itu akan membuat dia menjadi orang yang bertanggung jawab dan tidak seenaknya. Jika dia membuat masalah dengarkan penjelasannya dan perhitungan kau ingin mempercayainya atau tidak. Jangan membuatnya terpuruk dengan menekannya jika dia dalam posisi dituduh. Dan jika dia memang salah dan tidak ada orang yang mempercayainya, kau harus selalu berada di sisinya dan menasihatinya tentang kesalahannya lalu maafkan dia karena selalu ada kesempatan kedua sebelum cerita berakhir. Jika dia bersikeras kalau dia tidak salah maka kau harus melihat dari sisi dirinya lalu buktikan bahwa dia benar benar salah atau tidak, jika dia benar benar tidak salah maka bela dan dukunglah dia walaupun pistol di depan mata karena tidak ada orang bod*h yang mau mengakui kesalahan yang tidak diperbuatnya. Tapi, orang membantah kesalahan yang diperbuatnya, banyak. Dan yang terakhir. Jangan main pukul karena setiap kekerasan akan dilanjutkan dengan kekerasan lainnya. Pukullah jika memang diharuskan memukul. Jika kau memukul orang dengan alasan adikmu maka orang itu akan mengincar adikmu yang menjadi alasanmu memukulnya." nasehat Arlan.
Hiro menundukkan kepalanya "aku mengerti."
Bi Aina tiba tiba membuka pintu kamar Arlan dan Hiro. "Arlan, nak Hiro. Ayo makan malam nak." bi Aina melihat Arlan dan Hiro yang sedang terikat. "Arlan, jangan terlalu keras padanya! Dia masih seorang anak kecil."
"haha.. Tidaklah bi. Aku hanya sedikit menghukumnya lalu menasihatinya agar dia paham bahwa perbuatannya itu salah." Arlan melambaikan tangannya kepada bi Aina.
"iya, tapi, sekali lagi bibi pinta jangan terlalu keras padanya. Yaudah ya.. Bibi turun dulu." bi Aina keluar dari kamar Hiro dan Arlan.
"siap bi," jawab Arlan. Arlan beralih menatap Hiro. "Hiro, ini pesan terakhirku. Sama sepertimu yang tidak ingin adikmu disakiti maka aku juga tidak ingin adikku disakiti oleh karena itu berjanjilah bahwa kau tidak akan lagi memukul dan menyakiti anak panti ini. Kau boleh membentak dan berteriak marah sesuka hatimu. Namun, tidak boleh main fisik. Apakah kau mau berjanji?" Arlan tersenyum tipis menatap Hiro.
"aku akan mempertimbangkannya." jawab Hiro dingin.
"kalau begitu kau harus diikat semalam. Sampai jumpa." Arlan berbalik badan lalu hendak berjalan meninggalkan Hiro.
"eh, eh, bentar dulu!" Hiro menghentikan Arlan.
Arlan berbalik menghadap Hiro. "ada apa?"
"aku akan berjanji tidak menyakiti mereka setelah aku memastikan bahwa mereka bukanlah orang jahat. Aku takut nanti mereka ngapa ngapain adikku." ucap Hiro kepada Arlan.
"tidak ada orang jahat di panti asuhan ini. (selain aku) jadi, kau tidak perlu khawatir. Aku bersumpah jika terjadi apa apa pada adikmu dan anak anak di sini adalah pelakunya maka kau boleh menghancurkan satu anggota tubuhku. Aku adalah jaminan semua anak anak di sini. Bagaimana?" ucap Arlan.
"hm.. Kupikir untuk kali ini aku percaya. Namun, jika ada apa apa pada adikku dan pelakunya adalah anak panti asuhan ini maka kau orang pertama yang akan aku bunuh. Baiklah.. Aku berjanji tidak akan menyakiti, memukul dan melakukan kekerasan fisik kepada anak anak di sini oleh karena itu cepat lepaskan aku!" teriak Hiro kesal.
Arlan tersenyum lalu mendekati Hiro. Dia melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Hiro. "ayo kita ke bawah sepertinya mereka semua sudah hampir selesai makan malamnya!"
"ini sudah malam ya?" Hiro memegang tangannya bekas ikatan tali itu lalu turun dari tempat tidur itu. "Arlan."
"pake kak atau bang ya!"
"sepertinya kak Arlan adalah ketua dan orang terkuat di panti asuhan ini. Apakah kita bisa berduel untuk menentukan lebih kuat siapa diantara kita berdua."
"cih.. Lain kali saja ya. Aku benar benar lelah dan besok aku harus kerja lagi." Arlan keluar dari kamar. Lalu berdiam diri sebentar. "dan satu lagi Hiro. Tidak ada ketua atau pun pemimpin di dalam keluarga karena semuanya memiliki peran yang sama." Arlan berjalan menjauh dari kamar. "cih.. Bocah yang taunya cuma berkelahi. Aku bisa membunuhmu tanpa sengaja. Jika aku bertarung melawanmu," ucap Arlan pelan.
"hm.. Dia melarikan diri." Hiro keluar dari kamar itu lalu berjalan mengikuti Arlan ke tempat makan.
Hiro menuruni tangga lalu pergi ke dapur mengikuti Arlan. Saat di dapur Hiro melihat Rianty, Sherly, Neruka, Claudya, dan tiga orang pria remaja sedang makan di meja makan.
Saat melihat Hiro Claudya tersentak kaget. Dia minum lalu pergi dari meja makannya. "aku selesai."
"kak Claudya, kau mau kemana? Nasimu belum habis." Sherly mengejar Claudya.
"Claudya, hey." Neruka ikut mengejar Claudya. Sedangkan Rianty mengikuti mereka dari belakang.
Hiro melihat Claudya menundukkan kepalanya saat berjalan melewatinya. "cih.. kenapa anak itu? Masih marah padaku?" batin Hiro. Sherly dan Neruka berjalan melewati untuk menyusul Claudya. Namun, saat Rianty melewati Hiro. Hiro menahan lengannya. "mau kemana? Makan dulu! Habisin nasimu terlebih dahulu baru pergi."
"bang Hiro, maaf aku tidak bisa menurutimu kali ini. Aku sudah mendengar semuanya. Jadi, Aku ingin ikut menghibur Claudya. Dia kasian banget lho. Jika tidak ada abang Hiro mungkin nasibku akan sama seperti Claudya." Rianty melepaskan pegangan tangan Hiro lalu berlari menyusul Claudya.
Hiro berbalik badan. "hey Rianty! Kau—" Hiro melihat Rianty sudah pergi ke kamarnya. "cih.. Apa sih?" Saat Hiro berbalik badan dia menabrak salah satu remaja itu yang sudah berdiri di depannya. Remaja itu mencengkeram kerah baju Hiro sambil menatapnya tajam marah.
"kau ya orang yang sudah beraninya ingin menyakiti, Claudya?" bentak remaja itu.
Hiro memegang tangan remaja itu lalu menatapnya datar. "iya, terus? Mau ngajak berantem?" tanya Hiro dengan nada dingin.
Dua remaja lainnya juga ikut mendekati Hiro dan remaja itu. "cih.. Bocah songong ini. Apakah kau tahu bahwa ada peraturan di rumah ini bahwa seorang cowok tidak diperbolehkan menyakiti Claudya walaupun dengan niat bercanda. Tapi, kau malah melanggar peraturan itu." marah remaja lainnya.
"cih.. Kalian takut sama cewek?" Hiro tersenyum remeh dan menatap semua orang yang ada di sana dengan tatapan menantang.
"kalian semua berhentilah! Tidak baik meninggalkan nasi hanya untuk bertengkar. Nanti nasinya nangis lho." Arlan memegang pundak remaja yang memegang bahu Hiro. "bawa piring kalian ke depan biarkan aku yang mengurus bocah ini."
"tapi, bang dia sudah—"
"Iya, biarkan aku yang mengurusnya. Kita semua di sini memiliki masalah masing masing. Jadi, dia juga pasti begitu. Aku tidak akan membuat dia mengerti karena aku yakin dia akan mengerti dengan sendirinya." Arlan tersenyum. "tenangkan diri kalian!"
remaja itu melepaskan Hiro. Mereka bertiga kembali ke meja makan lalu membawa piring mereka masing masing keluar dari dapur sambil mengoceh.
"cih.. Kenapa sih mereka semua? Lebay." Hiro menatap Arlan lalu tersenyum. "sepertinya kau benar benar ketua dan orang terkuat yang ada di sini. Mereka langsung menghormatimu saat kau meminta mereka untuk berhenti. Aku jadi ingin segera bertarung denganmu."
Arlan kembali ke meja makan lalu kembali memakan nasi dan lauk di piringnya.
Hiro duduk di kursi yang berada di depan Arlan. "hey.. Apakah kita bisa bertarung setelah makan malam ini? Yang menang jadi abang."
"haha.. Kau ini benar benar kekanak kanakan. Apa yang kau dapatkan dari pertarungan? Luka? Rasa sakit? Hanya itu kan. Tapi, kenapa kau terus ingin bertarung?" tanya Arlan.
"setiap luka dan rasa sakit yang tidak membunuhku akan membuatku menjadi semakin kuat. Aku ingin menjadi lebih kuat untuk melindungi dan menjaga teratai," jawab Hiro sambil menatap meremehkan ke arah Arlan.
"haha.. Melihat dari kepercayaan dirimu pasti selama ini kau sangat jarang kalah ya? Hiro, anak anak itu selalu menyebutmu kuat karena mereka melihat dirimu yang tidak pernah kalah dalam bertarung. Tapi, bagiku. Kau hanyalah seekor anjing yang mengalahkan kucing kucing rumahan. Kau tidak pernah tahukan bahwa di dunia ini ada beruang, harimau, ular, singa. Jadi, ingatlah kata kataku kalau kau salah memilih lawan bukan hanya rasa sakit yang kau dapatkan. Kau bisa kehilangan nyawamu juga." nasehat Arlan dengan nada bercanda.
"apa maksud ucapanmu itu?" Hiro melihat Arlan minum lalu meletakkan piring kotornya di wastafel.
"sederhana saja. Jika kau merasa paling kuat karena sudah mengalami rasa sakit sangat banyak. Rasa sakit yang kau alami masih belum sebanding dengan diriku. Jadi, level kita berbeda untuk bertarung Hiro. Cerdaslah memilih lawanmu."
Hiro beranjak lalu kursinya lalu mendekati Arlan. "heh.. Aku sangat benci orang yang menasihati seolah olah sangat mengetahui kehidupanku. Begini saja jika kau menang melawanku. Aku akan menurutimu."
"janji ya?" Arlan berbalik badan lalu hendak memukul Hiro menggunakan piring beling bekas dia makan tadi.
Hiro mundur ke belakang Hampir saja piring beling itu mengenai wajahnya.
Arlan menghantamkan piring beling itu ke meja lalu mengambil salah satu pecahan tajamnya. "aku tidak menginginkan macam macam tolong hormati yang tua dan sayangi yang muda. Jangan memukul atau menyakiti semua orang di panti asuhan ini. Bermain dan berteman kepada Claudya dan yang lainnya. Dan kalau bisa minta maaflah kepada Claudya!" Arlan menyayat tangan Hiro yang mencoba bertahan sehingga tangannya mengeluarkan darah.
Hiro berkeringat dingin dan tidak berani menatap mata Arlan. "orang ini sudah gila ya?" Hiro hanya dapat berjalan mundur sambil menahan rasa sakit di tangannya.
"akh.. Sakit bangsat." Hiro memberontak dan mencoba memukul Arlan. Namun, Arlan menarik rambut Hiro lalu menghantamkan kepala Hiro ke dengkulnya.
Hiro menatap Arlan dengan perasaan yang campur aduk dan perasaan takut dalam batinnya dapat merasakan bahwa orang yang ada di depannya ini adalah monster yang bukanlah tandingannya.
"maaf ya.. Aku sebenarnya ingin mendidikmu secara perlahan. Tapi, kau sendiri yang memberikanku pilihan cara mendidik dengan lebih mudah ini." Arlan mengarahkan pecahan beling itu di depan mata Hiro. "ini bukanlah kekalahanmu. Tapi, ini adalah kekalahanku yang terpancing ucapanmu dan dikuasai oleh amarah setelah tahu kau telah menyakiti Claudya. Aku mengaku kalah darimu, Hiro. Kau benar benar kuat dalam artian yang lain." Arlan hendak menusuk mata Hiro menggunakan pecahan beling itu. Hiro menahan tangan Arlan menggunakan kedua tangannya.
"maafkan aku. Aku mohon biarkan aku hidup! Aku harus tetap hidup untuk adikku." pinta Hiro memohon.
Arlan menekan tangannya mengalahkan Hiro yang menahannya. Namun, pecahan beling itu melesat ke sebelah leher Hiro.
Arlan mendekatkan bibirnya ke telinga Hiro. "kalau begitu tidurlah!"
Hiro tiba tiba merasa sangat ngantuk lalu tertidur.
"hm.. Ada kekuatan besar di dalam dirinya yang dapat menghalangi kemampuanku. Namun, rasa takut akan kematian mengalahkan kekuatan besar itu." Arlan menatap dingin ke arah Hiro yang tertidur, dia sepertinya bisa mengetahui potensi yang dimiliki Hiro.
***
Hiro terbangun dari tidurnya lalu mendapati hari sudah pagi. "sudah pagi? Apa yang terjadi semalam?" Hiro mencoba mengingat kejadian semalam. "ah, iya. Semalam aku berjanji untuk melindungi semua orang di panti asuhan ini jika kalah melawan orang itu." Hiro mengusap kepala dan terus mencoba mengingat lebih keras. "sial.. Aku tidak dapat mengingat apapun. Semuanya seolah olah seperti mimpi." Hiro merasakan bahwa terdapat sebuah pembalut luka yang dililitkan di tangannya. "apa ini?" Hiro melihat pembalut luka itu. Namun, suara dari bawah tempat tidurnya menggagetkan Hiro. Hiro melihat Rianty, Neruka, dan Sherly keluar dari bawah tempat tidurnya lalu ke pojok ruangan itu.
"anu.. Aku ke sini karena disuruh bang Arlan untuk mengganti pembalut di lukamu dan memberikan surat dari bang Arlan ini saat kau bangun nanti. Sebenarnya aku juga tidak ingin melakukan ini dan menganggumu. Tapi, aku disuruh oleh bang Arlan." Neruka berdiri tegak dengan tangan terbuka sedangkan Sherly berlindung di belakang Neruka sambil mengintip Hiro dari bawah lengan Neruka.
"yang mengobati tangan abang semalam adalah Neruka. Jadi, bang Hiro jangan marah ya!" ucap Rianty.
"mengobatiku? Aku kalah ya?" batin Hiro. Hiro melihat surat di tangan Sherly yang sedang bersembunyi di belakang Neruka. "itu suratku, berikan kepadaku!" Hiro menadahkan tangannya ke arah Sherly.
"ini." Sherly dengan cepat meletakkan surat itu ke telapak tangan Hiro lalu kembali berlindung di belakang Neruka.
Hiro melihat tulisan di dalam surat itu. 'wah pertarungan kita semalam benar benar seru ya. Kau kuat sekali. Aku salut padamu yang tetap teguh memegang janji itu padahal kita berakhir seri. Kau bahkan berjanji padaku untuk menuruti satu permintaan dari semua orang yang sudah kau sakiti sebagai permintaan maaf. Tepati janjimu ya!'
Jantung Hiro berdetak saat dia membaca kata tepati janjimu itu. "janji? Memangnya aku berjanji seperti ini padanya? Padahal kami berakhir imbang kenapa aku harus melakukan hal ini?" batin Hiro.
Hiro tiba tiba teringat semalam di bertarung hebat dengan Arlan sehingga sama sama terluka dan berakhir seri. Hiro tersenyum saat mengingat itu. "tapi, semalam benar benar seru. Aku akhirnya mendapatkan lawan yang sepadan denganku." Hiro kembali melihat ke arah Sherly, Rianty, dan Neruka.
"terimakasih telah mengobatiku. Walaupun, aku sebenarnya tidak membutuhkannya," ucap Hiro.
Neruka dan Sherly melihat Hiro dengan tatapan kesal karena tidak tahu terimakasih. Tiba tiba terdengar suara keras dari arah bawah seperti barang yang terlempar.
"apa itu?" Hiro melihat wajah Neruka dan Sherly seketika menjadi gusar.
"sepertinya orang itu datang lagi." ucap Neruka.
"iya, kak kita harus bagaimana?" tanya Sherly yang keliatan panik.
"kita harus segera menelepon yang lainnya. Rianty, ayo ikut kami!" Neruka menarik tangan Rianty lalu mereka bertiga keluar dari kamar.
Hiro kebingungan melihat hal itu. "ada apa sih di bawah?" Hiro beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamar. Dia mendengar di ruangan kamar Neruka dan Sherly seperti mereka sedang menelpon seseorang. "heh.. Anak anak tidak jelas." ketus Hiro, turun dari tangga lalu berjalan menuju asal suara itu yang ternyata dari dapur. "hey.. Bibi lagi apa sih? Berisik banget. Ada makanan nggak? Aku lapar." saat memasuki dapur Hiro melihat bi Aina sedang menahan tangan seorang pria yang sedang memegang ikat pinggang dengan kening yang berdarah sedangkan di belakangnya terlihat Claudya yang menangis dengan sudut bibir yang berdarah.
Hiro terdiam melihat hal itu lalu bibirnya kemudian berkata pelan, "ada apa ini?"
Hiro melihat bi Aina menatap ke arahnya tatapan bi Aina seolah olah menyuruh Hiro untuk segera pergi.
Hiro melihat Claudya menangis sesegukan sambil meringis kesakitan. Dia berlirih dengan bibir mungilnya. "tolong ibu!"
Secara tiba tiba ingatan masa kecil Hiro yang buruk terputar di dalam otak Hiro layaknya sebuah film. Kejadian yang selalu menjadi mimpi buruknya kini terlihat kembali di hadapannya. Gundah, marah, ragu perasaan Hiro tercampur aduk sehingga membuat hanya termangu lalu saat melihat Claudya yang menangis sekali lagi. Dia melihat sosok Rianty saat masih kecil yang menangis di dalam diri Claudya. Kejadian di depannya itu membuat Hiro teringat dengan kematian bibinya dan perlakuan jahat pamannya. Hiro mengamuk lalu mengambil sebuah piring beling di rak.
Hiro berlari lalu memukul pria itu menggunakan piring beling dari belakang sehingga membuat pria itu melepaskan bi Aina.
Hiro mendekati pria itu kembali memukulkan piring itu ke kepala pria itu sehingga membuat piring itu menjadi pecah dan kepala pria itu berdarah.
Hiro memegang erat pecahan piring itu lalu menusuk nusukkannya ke lengan pria itu. Pria itu melawan lalu mencoba memukul Hiro. Hiro menghindari pukulan pria itu, lalu Hiro melompat dan menarik rambut pria itu ke bawah, menghantam kepala pria itu ke dengkulnya.
Pria itu terduduk kesakitan, melihat hal itu dengan cepat Hiro menusukkan pecahan beling piring itu ke bahu pria itu sehingga membuatnya menancap di sana.
Pria itu mundur lalu berteriak kesakitan. Dia memaki Hiro lalu kembali maju untuk memukul Hiro.
Hiro maju lalu berputar menghindari pukulan pria itu. Hiro dengan cepat menyikut kemaluan pria itu dengan keras sehingga membuat dia langsung ambruk ke belakang.
Hiro menendang kemaluan pria itu secara terus menerus sampai pria itu berteriak kesakitan, lalu menduduki dada pria itu dan dengan membabi buta memukuli wajah pria itu.
Hiro menarik kepala pria itu lalu mengigit telinganya. Hiro menarik telinga pria itu sampai keluar darah dari di telinga pria. Saat ini Hiro seperti sedang kesurupan, dia benar benar tak bisa mengendalikan amarahnya.
Hiro berteriak kemudian menghantamkan keningnya ke wajah pria itu lalu kembali memukul secara bertubi tubi sampai pria itu sangat tidak berdaya. Kata kata makian diucapkan oleh Hiro setiap dia memukul wajah pria itu. Perasaan yang mengebu gebu membuat seakan lupa diri. Trauma yang perlahan dia lupakan, sekarang sudah diingat lagi dengan jelas oleh Hiro. Setiap kenangan buruk saat pamannya menyiksa bibinya sampai saat kematian bibinya kini bisa diingat lagi oleh Hiro dengan sangat jelas.
Hiro berdiri lalu menginjak injak wajah pria itu. "mati! Mati! Mati! Bangs*t!" Hiro berjalan ke arah cobek batu yang ada di dapur itu lalu mengambil ulekan yang ada di atasnya. Hiro berjalan kembali ke arah pria itu yang hendak berdiri. Namun, bi Aina menghalangi langkah Hiro dan memintanya untuk berhenti. Namun, Hiro tidak mendengarkan bi Aina di terus mencoba untuk menerobos bi Aina. Bi Aina kemudian memeluk Hiro untuk menghentikannya.
Mata Hiro terbelalak sesaat dia merasakan kembali pelukan bibinya yang sudah mati sehingga membuat Hiro meneteskan air matanya. "tidak akan aku biarkan mati lagi. Aku harus membunuhnya jika tidak ingin mati lagi." Hiro mendorong bi Aina ke samping lalu berlari menyusul pria itu yang sudah berlari duluan.
Hiro berlari ke arah pintu keluar lalu melihat pria itu sedang berlari darinya. Hiro melemparkan ulekan batu itu sehingga membuat pria itu tersungkur kesakitan saat ulekan itu mengenai punggungnya. Dia segera bangkit kembali lalu berlari lagi.
Hiro kembali berlari. Namun, dia kehilangan jejak. Hiro mengambil kembali ulekan yang tadi dia lemparkan di tanah.
"hey.. Kau bagaimana keadaan bibi dan Claudya? Apakah orang itu sudah pergi?" tiga orang remaja berlari kecil mendekati Hiro.
Hiro melihat ke arah ulekan itu lalu segera kembali berlari masuk ke dalam bangunan panti asuhan.
Hiro masuk ke bangunan panti asuhan lalu berlari ke dapur. Hiro melihat bi Aina sedang memeluk Claudya yang menangis mencoba untuk menenangkannya.
Hiro mendekati mereka berdua. "bibi, apakah kalian baik baik saja?"
Bi Aina tersenyum senduh menatap Hiro. "kami baik baik saja berkat dirimu Hiro."
Hiro tersentak saat melihat senyuman bi Aina. Secara tiba tiba dia terbayang wajah bibinya yang sudah mati. "bibi," lirih Hiro.
Air mata Hiro mengalir deras dengan sendirinya. "bibi." Hiro berlutut di depan bi Aina. kakinya terasa sangat lemas untuk berdiri. "bibi." kesedihan telah menguasai Hiro. Dia teringat semua hal tentang bibinya. Hiro kembali mengingat rasa pelukan bibinya saat dia mencoba melindungi Hiro. Hiro kembali mengingat senyuman bibi saat dia berkata tidak apa apa untuk membuat Hiro tidak khawatir. Hiro menatap Claudya yang menangis di dalam pelukan bi Aina dan bi Aina yang memeluk Claudya mencoba menenangkannya Membuat Hiro kembali teringat saat bibinya mencoba menenangkan Rianty yang menangis saat ayahnya datang dan melakukan KDRT kepada mereka. "bibi." Hiro melihat sosok Rianty kecil di dalam diri Claudya. Hiro mencoba mengelus kepala Claudya. "Teratai." saat tangan Hiro menyentuh rambut Claudya. Claudya langsung berbalik sambil menepis tangan Hiro.
"eh?" Hiro melihat Claudya menatapnya dengan tatapan yang tidak dia mengerti seperti campuran rasa takut, kecewa, marah, dan sedih. Tatapan Claudya membuat Hiro merasakan perasaan bersalah yang teramat besar.
Claudya segera bangkit lalu berlari meninggalkan Hiro dan Bi Aina.
"hey tunggu!" teriak Hiro. Namun, Claudya sudah pergi ke atas menuju kamarnya.
Bersambung
読んでくれてありがとう




