表示調整
閉じる
挿絵表示切替ボタン
▼配色
▼行間
▼文字サイズ
▼メニューバー
×閉じる

ブックマークに追加しました

設定
0/400
設定を保存しました
エラーが発生しました
※文字以内
ブックマークを解除しました。

エラーが発生しました。

エラーの原因がわからない場合はヘルプセンターをご確認ください。

ブックマーク機能を使うにはログインしてください。
Hiro  作者: Sahrul
2/4

Hiro chapter 1.5

読んでください

Selamat membaca


***


Ibu pemilik kontrakan mendekati Hiro dan Rianty dan memeluk mereka mencoba untuk menenangkan kedua anak itu. "Hiro, mpok.. Yang akan mengurus semua masalah ini dan mpok juga yang akan mengurus proses jenazah bibinya Hiro." bisik ibu pemilik kontrakan di telinga Hiro.


Sore itu juga proses pemakaman bibinya Hiro dilakukan, di setiap proses Hiro benar benar tidak bisa menerima kepergian bibinya, dia memeluk tubuh bibinya dan menangis dengan pilu, meratap dan menyalahkan dirinya sendiri. Tetangga yang melihat Hiro juga ikut merasakan rasa kehilangan yang Hiro dan Rianty alami. "bibi buka matamu dong! Semua uangku, kerja kerasku, bahkan hidupku, ambil aja semuanya tuhan. Kembalikan bibiku, nggak boleh. Tidak ada yang boleh memisahkan Rianty dan bibi." Hiro memeluk bibinya dan menguncang guncang tubuhnya. Tangisan pilu Hiro membuat beberapa tetangga yang menyaksikan itu juga ikut menangis. Rianty memeluk Hiro mencoba menenangkannya walaupun dia juga menangis.


Pada akhirnya walaupun Hiro dan Rianty belum ikhlas menerima kepergian bibinya. Namun, pada akhirnya proses pemakaman berhasil dilakukan. Dalam waktu yang lama Hiro memeluk nisan bibinya tak ingin meninggalkannya. Rianty memeluk Hiro untuk menenangkannya. "bang Hiro, udah ini bukan salah abang kok. Ibu juga udah bilang. Bang Hiro masih ada aku kan?"


Hiro tersadar dan merangkul tubuh kecil Rianty, mulai saat itu bertekad walaupun harus mati, dia tidak akan membiarkan siapapun melukai Rianty, ketakutannya akan kehilangan lagi. Membuatnya bersumpah akan melakukan apapun demi adiknya bisa terus hidup.


***


Malam harinya banyak orang berkumpul di rumah Hiro untuk mengadakan acara mendoakan bibinya Hiro. Rianty terus menangis memeluk Hiro dan Hiro hanya menatap kosong ke depan, perasaannya benar benar hampa. Air matanya seakan sudah habis terkuras. Ibu pemilik kontrakan terus mengusap bahu Hiro dan Rianty untuk menenangkan mereka berdua. "nak.. Ibu kalian orang baik dan juga rajin beribadah pasti tuhan akan menyayangi ibu kalian di sisinya. Namun, tiba tiba terjadi sebuah keributan karena paman Hiro datang ke sana sambil marah marah.


Beberapa orang langsung menahan pamannya Hiro yang mencoba menerobos untuk masuk. "Rianty, anak setan, keluar kalian! Kalian pasti menerima uang duka yang banyak setelah cewek itu mampus. Berikan uang itu padaku!" teriak pamannya Hiro dengan penuh amarah.


Rianty terlihat ketakutan saat melihat ayahnya datang ke sana, memegang erat tangan Hiro. Saat Hiro melihat ekspresi ketakutan dari Rianty, Hiro merasakan perasaan yang aneh. Sebuah sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak akan kejadian yang sama terulang kepada Rianty. Hiro berdiri dan menarik tangan Rianty pelan. "ayo ke belakang!" Hiro mengajak Rianty untuk pergi ke dapur.


Rianty menatap wajah Hiro, dia terkejut dan sedikit takut saat melihat tatapan kosong dari mata Hiro. "abang? iya, ayo!" Rianty berjalan pelan sambil digandeng oleh Hiro.


Mereka berdua berjalan ke dapur ibu ibu yang mengerjakan tugasnya di dapur semuanya ke depan untuk melihat apa yang terjadi sehingga membuat dapur itu sangat sepi. "kau duduklah di sini!" suruh Hiro mendudukan Rianty di sana.


"iya, bang." Rianty langsung menuruti Hiro. Dia duduk di sana dengan tenang. Rianty menatap Hiro khawatir karena aura yang dimiliki abangnya sekarang benar benar berbeda.


Hiro menarik napas dan melihat sebuah pisau yang tergeletak di atas meja. "abang mau ngapain?" tanya Rianty yang was was saat melihat Hiro memperhatikan pisau itu dengan tatapan kosong.


Di depan terjadi cekcok antara pamannya Hiro yang mencoba untuk masuk dan orang yang mencoba untuk menghalanginya masuk. Di tengah keributan itu, Hiro berlari dari arah dapur dan melompat ke arah pamannya, menusukkan pisau ke bahu pamannya. "kau adalah orang yang sering membuat bibi terluka sehingga bibi tidak bisa disembuhkan lagi. Jadi, aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu. Terlukalah sampai kau tidak bisa disembuhkan lagi dan matilah sama seperti bibi." Hiro mencabut pisau dari bahu pamannya yang seketika mengalir darah dari sana. Hiro maju sambil menghunuskan pisaunya ke arah perut pamannya. Namun, segera ada orang yang menahan Hiro untuk melakukan hal itu. Hiro yang sudah gelap mata memberontak meminta untuk dilepaskan agar dia bisa membunuh pamannya. Rasa sakit dan dendam yang selama ini dia tahan sekarang meledak menjadi kebencian yang mendalam.


Pamannya Hiro meringis kesakitan sambil memegang bahunya yang mengeluarkan darah. "dasar.. Sial*n." pamannya Hiro mencoba memukul Hiro. Namun, langsung ditahan oleh orang juga. Semua orang disana menarik Hiro dan pamannya untuk menjauh satu sama lain. Keributan terjadi di sana. Hiro menggigit tangan orang yang menahan sehingga dia bisa terlepas dan langsung berlari ke arah pamannya. Hiro menusuk paha pamannya menggunakan pisau sehingga membuat dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh bersama orang yang menahannya.


"matilah! Matilah! Matilah! Kau yang membuat bibi rusak sehingga tidak bisa diperbaiki lagi. Maka kau juga harus rusak!" Hiro mencabut pisau itu dan kembali menusuk bagian betis kaki pamannya sehingga membuat pamannya berteriak kesakitan. Hiro merangkak lalu menduduki dada pamannya. Hiro mengangkat tangannya sambil menggenggam pisau Hiro mengarahkan bagian lancip pisau itu ke bawah, ke arah wajah pamannya. "aku akan membuatmu terluka sampai tidak bisa disembuhkan lagi. Aku akan merusakmu sampai tidak bisa hidup lagi!" Hiro menusukkan pisaunya ke arah wajah pamannya.


Pamannya Hiro menutup mata karena ketakutan. Saat dia matanya kembali ujung pisau sudah berada di depan matanya dari pisau itu. pamannya Hiro bisa melihat wajah Hiro yang teramat marah dan matanya yang sebelumnya biru terlihat memutih. Hiro terlihat seperti layaknya monster yang menakutkan di mata pamannya.


"abang, jangan!" Rianty memeluk Hiro sambil menangis dari belakang, deg! Jantung Hiro berdetak kencang. rasa ketakutan bahwa dia memiliki kemungkinan akan meninggalkan adiknya jika melakukan ini membuat Hiro tidak jadi menusuk pamannya. Jantungnya berdetak kencang, Nafas Hiro mengebu gebu, emosinya campur aduk.


Beberapa orang segera menarik tubuh Hiro dari atas tubuh pamannya dan mengambil pisau di tangannya. Pamannya Hiro segera bangkit dan berjalan pincang terburu buru dari tempat Itu, dia merasakan ketakutan di dalam hatinya yang akan selalu diingatnya.


Hiro duduk dengan tatapan kosong ke depan di sampingnya terlihat Rianty yang sedang memeluknya sambil menangis dan ibu pemilik kontrakan yang terus mengusap usap punggung Hiro. "nyebut nak! Nyebut! Jangan dengerin apa kata setan!" ucap bibi pemilik kontrakan.


Setelah itu acara itu doa itu selesai beberapa orang pamit dan pulang ke rumahnya masing masing sehingga hanya meninggalkan Rianty yang memeluk Hiro sambil menyembunyikan wajahnya di bawah lengan Hiro, Hiro yang masih memandang kosong ke depan sambil mengelus kepala Rianty dan ibu pemilik kontrakan yang melihat mereka berdua.


"nak Hiro. Mpok.. Paham pasti sangat berat kehilangan ibu kalian yang selalu menjaga kalian dari kecil. Tapi, maaf. Mpok nggak bisa bantu banyak. Mulai sekarang mpok yang akan menanggung biaya makan dan sekolah kalian dan juga rumah kontrakan ini mpok geratisin untuk kalian tempati." ibu pemilik kontrakan mengusap rambut Hiro.


"mpok.. Tidak perlu berbuat baik sampai segitunya kepadaku karena aku tidak yakin bisa membalas kebaikan mpok. Aku akan berhenti sekolah dan bekerja untuk menghidupi dan membiayai biaya sekolahnya Rianty," ucap Hiro, dengan nada dingin. Dia masih tidak mau merepotkan siapapun.


"Hiro harus tetap sekolah! Hiro harus ingat bahwa ibu kalian ingin kalian menjadi orang yang hebat dan untuk menjadi orang hebat kalian harus tetap sekolah. Hiro kan masih bisa bekerja sepulang sekolahkan. Hiro jangan khawatir biar bibi yang akan menanggung biaya sekolah kalian." pemilik kontrakan memaksa Hiro untuk menerima niat baiknya yang tulus, dia hanya ingin Hiro dan Rianty tetap bersekolah dan hidup layaknya anak anak pada umumnya.


"huh.. Baiklah.. Tapi, aku berjanji aku akan membayar semua perbuatan baik mpok walaupun dengan cara mencicilnya," ucap Hiro berjanji kepada pemilik kontrakan.


"iya, tapi untuk sekarang kau tidak perlu memikirkan hal itu. Hiro, apakah kalian berdua tidak masalah jika mpok tinggal? soalnya mpok juga harus pulang." pemilik kontrakan terlihat merasa bersalah meninggalkan Hiro dan Rianty sendirian.


"tidak, mpok. Silakan saja pulang! Maaf karena sudah merepotkan dan Terimakasih sudah mau direpotkan." Hiro menundukkan kepalanya hormat kepada pemilik kontrakan. Dia menunjukkan rasa terima kasihnya yang sangat sangat besar kepada pemilik kontrakan.


Ibu pemilik kontrakan mengusap rambut Hiro dan tersenyum tipis, bangga akan kedewasaan Hiro. "iya, mpok permisi ya.." ibu pemilik kontrakan berdiri dan hendak pergi. "Hiro, kau adalah anak yang kuat. Mpok.. Yakin kau bisa melewati ini semua dengan lapang dada." ibu pemilik kontrakan, menatap Hiro dan Rianty dengan tatapan yang sulit diartikan lalu keluar dari rumah Hiro. "assalamualaikum."


Hiro berdiri dan berjalan mengunci pintu rumah. Dia kemudian hendak berbalik ke arah Rianty "bang, bagaimana sekarang?" tanya Rianty cemas dan tidak tahu akan nasib mereka ke depannya.


"kita tidur ya.." Hiro memegang tangan, dan mengantar Rianty ke kamarnya. "yaudah kau tidur di sini ya! Aku juga mau tidur di depan." Hiro mengusap kepala Adiknya dan hendak pergi.


Rianty memegang tangan Hiro. "abang temenin! Aku tidak biasa tidur sendiri." rengek Rianty kepada Hiro. Sebelum ini dia selalu tidak bersama ibunya. Tapi, sekarang ibunya sudah tidak ada sehingga dia takut untuk tidur sendirian.


Hiro menghapus air mata di pipi Rianty dan berjalan masuk ke kamar. "baiklah.. Untuk malam ini saja aku akan menemanimu tidur." Hiro mengiyakan permintaan Rianty, lagi pula dia juga berat untuk meninggalkan Rianty sekarang.


Malam itu Rianty tidur sambil memeluk erat tubuh Hiro. Namun, Hiro terus gelisah sehingga tidak bisa tidur. Dia menyingkirkan tangan Rianty dari atas tubuhnya pelan pelan agar tidak membangunkannya dan berjalan ke arah tas sekolahnya. Hiro membuka tas sekolahnya, mengambil kacamata hitam pemberian bibinya dari dalam sana. Setelah melihat kacamata itu cukup lama Hiro akhirnya memutuskan untuk memakai kacamata itu. "benar benar gelap. Aku tidak menyukai kacamata ini. Namun." bibir Hiro tersenyum, sebuah senyuman yang menyimpan rasa sakit yang tidak bisa dia katakan. air matanya mengalir ke pipinya Hiro. Dan, segera menghapus air matanya menggunakan tangannya. "aku pasti akan tidur nyenyak malam ini." Hiro kembali berbaring di kasur dan tidur sambil memakai kacamata itu.


***


Semenjak hari itu Hiro yang sebelum adalah orang yang cuek dan dingin dengan setiap orang yang mengganggu dirinya kini menjadi orang yang buas dan brutal. Hiro yang sebelumnya tidak terlalu mempedulikan ucapan orang tentang dirinya kini dia langsung akan menghajar siapapun orang yang berurusan jahat dengannya apalagi jika orang itu berurusan dengan adiknya tidak peduli siapapun itu kecil atau besar, cewek atau cowok, tua atau muda. Hiro akan menghajar semuanya. Layaknya orang yang sudah tidak takut mati Hiro menyanggupi setiap tantangan berantem dari siapapun. Satu persatu murid sekolah lain datang dan dihajar habis habisan oleh Hiro. Entah itu murid SMP atau pun murid SMA Hiro mengalahkan semuanya. beberapa dari banyaknya orang yang dikalahkan oleh Hiro, mengikuti dia layaknya seperti bawahan sehingga Hiro terlihatseperti ketua dari geng sekolah.


begitu pun saat di pasar. Ketika preman mencoba memalak Hiro. Hiro malah menghajar mereka. Walaupun, Hiro dikeroyok Hiro selalu berhasil membuat mereka terluka parah dengan menghalalkan segala cara untuk menang seperti memukul dan melempar para preman itu dengan kayu dan batu atau menusuk dan menyayat mereka menggunakan cutter. Melihat kejadian itu membuat semangat dan keberanian semua pekerja di pasar bangkit mereka setuju untuk mengusir para preman itu dari pasar lalu menunjuk Hiro sebagai pemimpin mereka. Hiro dan para pekerja itu berhasil mengusir para preman itu dari pasar untuk selamanya sehingga tidak ada lagi yang akan mengganggu dan mengacau di pasar. Hiro dikenal sebagai pemimpin dan pelindung pasar kala itu. Bahkan bosnya tempat Hiro bekerja pun sedikit takut jika harus memerintah Hiro. Hiro mendapatkan julukan sang penjaga pasar.


Semuanya kejadian di itu adalah awal bagaimana Hiro memulai perjalanannya yang panjang untuk menjadi seorang legenda. Perjalanan Hiro yang sesungguhnya baru akan berlangsung mulai sekarang.


Bersambung


読んでくれてありがとう

評価をするにはログインしてください。
ブックマークに追加
ブックマーク機能を使うにはログインしてください。
― 新着の感想 ―
このエピソードに感想はまだ書かれていません。
感想一覧
+注意+

特に記載なき場合、掲載されている作品はすべてフィクションであり実在の人物・団体等とは一切関係ありません。
特に記載なき場合、掲載されている作品の著作権は作者にあります(一部作品除く)。
作者以外の方による作品の引用を超える無断転載は禁止しており、行った場合、著作権法の違反となります。

↑ページトップへ