Hiro chapter 1
読んでください
Happy reading
***
Hiro berjalan sambil menenteng tas sekolahnya melewati gang gang sempit untuk menuju rumahnya yang berada diujung kota sanjaya. Dia pulang terlambat karena sehabis sekolah Hiro langsung bekerja sebagai kuli panggul, tukang parkir, dan kuli angkut di pasar sanjaya. Terkadang di hari libur Hiro bekerja sebagai kenek angkot, mencari barang bekas, pengamen, bahkan menjadi pengemis sehingga Di usianya yang baru menginjak dua belas tahun Hiro telah bertemu dengan berbagai macam manusia dengan watak dan sifat yang berbeda beda. Hiro sering bertemu orang yang mengejeknya miskin saat dia sedang bekerja dan juga Hiro sering dihina dan diejek oleh anak orang kaya di sekolahnya. Namun, Hiro memilih untuk menjauh lalu menyimpan kekesalannya dalam hati. Walaupun sebenarnya dia bisa saja membalas mereka semua. Namun, Hiro tahu kalau dia membalas secara fisik maka akan muncul masalah baru lagi yang akan melibatkan bibinya oleh karena Hiro tidak pernah membalas mereka sehingga membuat Hiro menjadi penyendiri dan memiliki sedikit sekali teman di sekolahnya.
Mata biru milik Hiro menatap dingin rumah kontrakan tempat tinggalnya. Telinganya mendengar suara keributan yang berasal dari rumah itu.
Hiro menggendong tas di bahu. "bangs*t." Hiro berlari menuju rumahnya lalu masuk ke dalamnya Hendak mencari asal suara keributan itu. Hiro melihat di dapur orang yang dikatakan pamannya hendak memukul bibinya dengan penuh amarah.
Hiro segera berlari lalu berdiri di depan bibinya lalu menahan pukulan pamannya itu karena tubuhnya yang masih teramat kecil Hiro terjatuh ke samping akibat pukulan itu.
"huh.. Anak pembawa sial Ini sudah datang rupanya. Kau pasti sehabis bekerja di pasar kan? Serahkan semua uang itu padaku, sial*n!" pamannya Hiro mencoba untuk memukul Hiro yang hendak berdiri. Namun, Bibinya Hiro memeluk tubuh Hiro untuk melindungi tubuh Hiro. Namun, Hiro mendorong bibinya agar tidak dipukul oleh pamannya lalu melompat mundur ke belakang.
"jangan sakiti bibi lagi! Aku akan memberimu uang." Hiro merogoh sakunya lalu berjalan mendekati pamannya. Bibinya berteriak agar Hiro tidak mendekati pamannya.
"heh.. Anak anj*ng ini ternyata sudah jinak ya.. Sini berikan aku uangnya, cepat!" bentak pamannya Hiro sambil menadahkan tangannya kepada Hiro.
Hiro melemparkan uang ke wajah pamannya lalu saat pamannya lengah Hiro dengan sekuat tenaga memukul alat vital pamannya itu sehingga membuat pamannya merunduk kesakitan memegang bagian depan celananya. Hiro melompat lalu mengigit telinga pamannya dan menariknya sekuat tenaga sampai sampai telinga pamannya mengeluarkan darah.
Hiro melompat mundur lalu meludahkan darah telinga pamannya yang masuk ke mulutnya. "sampah yang sukanya keluyuran malam dan mabuk mabukan. Apakah otakmu sudah kosong sehingga tanpa malu kau datang ke sini untuk meminta uang pada kami? Bangs*t,"
"sial*n. Ternyata anak anj*ng belum jera ya.. Sudah Pukuli terus terusan. Kau ingin kuhajar sampai mati ya.." pamannya Hiro menarik ikat pinggangnya.
Bibinya Hiro memeluk erat Hiro lalu mendorong menjauh dari pamannya. "kumohon jangan sakiti Hiro. Dia masih sangat kecil." bibinya Hiro menangis memelas.
"bibi menyingkirlah! Aku tidak ingin kau terluka sama si bangs*t itu." Hiro mencoba mendorong bibinya yang sedang memeluk untuk menyingkir darinya. Namun, bibinya tetap memeluknya erat Hiro. Pamannya Hiro mencambukkan ikat pinggangnya mengenai bagian belakang bibinya Hiro sehingga membuat bibinya Hiro meringis kesakitan. Mata Hiro terbelalak saat air mata bibinya jatuh mengenai pipinya.
Pamannya Hiro hendak mencambukkan ikat pinggangnya lagi. Hiro berteriak marah. "brengs*k." Hiro mendorong ibunya sehingga terjatuh ke samping lalu menangkap ikat pinggang menggunakan tangannya. Hiro maju lalu kembali memukul alat vital pamannya sehingga membuat pamannya kembali meringis kesakitan. Hiro mendekat lalu mengigit tangan pamannya yang sedang memegang ikat pinggang.
Pamannya memukul kepala Hiro sehingga membuat Hiro terjatuh ke depan lalu melihat tangannya yang berdarah. "dasar anak pungut beraninya kau berbuat seperti ini kepadaku." pamannya Hiro sangat marah lalu mencoba menyerang Hiro. Namun, Hiro mencambukkan ikat pinggang yang direbut dari tangan pamannya ke kakinya sehingga membuat pamannya berteriak kesakitan.
Hiro mencambukkan ikat pinggang itu ke kepala pamannya sehingga membuat pamannya terjatuh ke belakang dengan memegang kepala yang mengeluarkan darah. Saat pamannya jatuh Hiro segera mencambuk pamannya memgunakan ikat pinggang secara bertubi tubu mengenai beberapa bagian tubuh dari pamannya.
"berhenti bocah set*n!" pamannya Hiro meletakkan kedua tangan di depan untuk wajahnya. Namun, Hiro terus mencambuk tubuh pamannya secara acak sehingga menimbulkan bercak luka dan darah dari cambukan Hiro.
Pamannya berhasil menangkap ikat pinggang itu lalu menariknya ke arahnya membuat Hiro dengan cepat tertarik lalu ditendang oleh pamannya sehingga membuat Hiro terjatuh ke belakang dan ikat pinggang yang dipegangnya terlempar jauh.
Pamannya Hiro berdiri lalu berjalan mendekati Hiro kemudian mencoba memukul Hiro secara bertubi tubi.
Hiro segera berdiri lalu menghindari serangan pamannya sambil berjalan mundur. Namun, pukulan pamannya mengenai pipinya sehingga membuat dia mundur ke belakang menabrak tembok di belakangnya.
"mati kau bocah setan." pamannya menginjak injak Hiro. Hiro berbalik badan lalu menjadikan tas yang berada di punggungnya sebagai tameng.
"sial.. Aku lemah." Hiro terus bertahan menggunakan tasnya saat diinjak injak oleh pamannya.
Bibinya mendorong pamannya agar menjauh lalu memeluk tubuh kecil Hiro untuk melindunginya.
"bibi." Hiro melihat bibinya memeluknya. Namun, di belakang bibinya Hiro melihat pamannya hendak memukul bibinya menggunakan tangan besarnya.
"kalian berdua benar benar sial*n." pamannya Hiro hendak memukul tubuh bibinya dengan penuh amarah sambil meringis akibat dipukuli oleh Hiro menggunakan ikat pinggang tadi.
"bangs*t!" Hiro maju melindungi bibinya menerima pukulan tangan pamannya sehingga membuat Hiro terlempar ke samping.
Pamannya Hiro kembali mencoba memukul bibinya Hiro. Namun, Hiro kembali maju lalu mengigit jari pamannya dengan kuat sehingga pamannya berteriak kesakitan sambil memukuli tubuh Hiro agar melepaskan gigitannya.
"lepasin.. Akh.. Sakit. Anak bangs*t!" pamannya Hiro mengangkat tangannya hendak memukul Hiro. Namun, dari arah belakang terdapat seorang bapak bapak menahan tangannya lalu memukul wajah pamannya Hiro sehingga membuat dia mundur ke belakang sambil meringis kesakitan.
Beberapa saat kemudian riuh suara warga yang datang untuk membantu Hiro dan bibinya. Bapak bapak dan ibu ibu datang menerobos masuk ke dalam rumah kontrakan Hiro dan bibinya.
Bapak bapak mendekati pamannya Hiro lalu menyeretnya untuk keluar dari rumah kami. Namun, pamannya Hiro terus memberontak. "ah.. Jangan ikut campur urusan keluargaku! Dia itu istriku jadi terserah aku, mau aku apain." bapak itu terus menyeret pamannya Hiro keluar. Namun, beberapa dari mereka malah naik pitam lalu membentak, ada juga yang mencoba memukul pamannya Hiro. Mereka marah kepada kelakuan pamannya Hiro sehingga membuat pamannya Hiro mau tidak mau harus keluar di usir dari rumah itu sambil teriaki dan dihina oleh warga yang marah.
"sial*n.. Kalian nggak lihat aku berdarah darah begini karena anak itu? biarin aku masuk! aku mau membalas kelakuannya padaku!" pamannya Hiro mencoba kembali masuk. namun, warga melarangnya dengan mendorongnya menjauh dari rumah sambil berteriak marah bahkan ada yang akan memukul pamannya Hiro, jika tidak mau pergi dari sana. setelah keributan itu pamannya Hiro memutuskan untuk berjalan pergi menjauh dari sana. Kata kata umpatan dan makian dari warga mengiringi kepergian pamannya Hiro.
Sedangkan ibu ibu mendekati Hiro dan bibinya untuk menanyakan keadaan mereka. bibinya menjawab pertanyaan dari warga seadanya. Kata kata umpatan kesal keluar dari mulut ibu ibu untuk pamannya Hiro.
Dari dalam kerumunan terdapat seorang anak kecil memeluk bibinya Hiro sambil menangis. "ibu, apakah ibu baik baik saja? Ibu tidak dipukuli oleh bapakkan?" tanya anak kecil itu.
Bibinya Hiro mengusap rambut anaknya, mencoba menenangkan anaknya lalu berkata dia baik baik saja agar anaknya tidak khawatir.
Anak kecil itu lalu mendekati Hiro yang masih duduk kesakitan akibat dipukul oleh pamannya tadi. "abang Hiro, abang nggak papa kan. Apakah abang sakit? Apakah abang dipukul oleh bapak?" tanya anak kecil itu khawatir. Anak kecil ini adalah anak kandung dari bibinya Hiro yang bernama Rianty putri teratai. Orang orang sering memanggilnya Rianty. namun, Hiro terkadang memanggilnya Teratai.
"Teratai, aku baik baik saja. Kau melakukannya dengan baik." Hiro mengusap rambut Rianty karena menghargai usaha Rianty. Semenjak kecil kejadian seperti ini sudah sering terjadi kepada Hiro dan Rianty. Jadi, Hiro menyuruh Rianty untuk segera memanggil ibu pemilik kontrakan atau warga untuk membantu ibunya.
Bibinya Hiro mendekati Hiro lalu mengusap lembut pipinya. "Hiro, kau pasti lelahkan karena selepas sekolah kau langsung pergi ke pasar. Namun, setelah pulang bukannya istirahat kau malah dipukul oleh dia karena salahku. Hiro katakan pada bibi dimana yang sakit? Ayo sini bibi gendong kau ke kasur, lalu bibi obati lukamu ya."
"tidak perlu, Aku baik baik saja. Aku pulang hanya karena lapar. Aku mau makan." Hiro melepaskan tangan bibinya yang mengusap pipinya lalu berdiri. "kalian semua, aku berterima kasih banyak karena kalian karena sudah mau datang untuk membantu kami. mungkin untuk sekarang orang itu tidak akan datang lagi untuk menyusahkan bibinya. Aku benar benar berterima kasih."
Setelah mengucapkan terimakasihnya, Hiro berjalan pergi dari kerumunan itu menuju tudung saji yang terletak di lantai dapur. Hiro mengambil piring lalu duduk kemudian membuka tudung saji itu. Hiro mengambil ikan goreng dan nasi lalu meletakkannya di piringnya, Hiro makan sambil melihat orang orang yang masih riuh berkumpul di rumahnya karena mengkhawatirkan dirinya.
Terdapat seorang wanita yang sudah cukup berumur duduk di samping lalu mengusap rambut Hiro. Dia adalah ibu pemilik kontrakan yang ditinggali oleh Hiro, bibinya, dan Rianty.
"Hiro, mpok tahu kau anak yang kuat. Namun, di usiamu yang masih sangat mudah ini kau tidak perlu selalu terlihat kuat. Kau boleh menangis jika kau mau!" ucap Ibu pemilik kontrakan dengan nada lembut kepada Hiro yang sedamg makan.
"mpok, menangis tidak akan mengubah keadaanku. Tidak juga menghilangkan rasa sakitku. Jadi, untuk apa aku melakukan itu? Aku harus selalu kuat untuk membuat keluarga ini dipandang karena aku adalah satu satunya laki laki di keluarga ini. Orang itu sudah tidak bisa diharapkan. Jadi, sebisa mungkin aku yang menjadi kepala keluarga yang memimpin keluarga kecilku ini." jawab Hiro sambil makan.
"kau benar benar dewasa ya.. Hiro, apakah mpok boleh meminta satu hal kepadamu?" tanya wanita itu.
"mpok, sangat baik kepadaku dan keluargaku. Jadi, aku bisa membantu mpok secara kekuatan aku akan melakukannya," jawab Hiro dengan mulut yang penuh dengan nasi.
"tidak, tolong untuk hari ini saja. Jangan keluar lagi ya.. Sudah cukup kau bekerja hari ini. Ini mpok kasih buat kau jajan." wanita itu memberikan dua lembar uang dua puluh ribu kepada Hiro.
"hm.. Terimakasih." jawab Hiro dengan nasa datar dan meneruskan makannya.
"kau anak yang baik Hiro. Andaikan mpok bisa punya anak mpok ingin punya anak sepertimu. Udah ya.. Makanlah! Mpok mau melihat keadaan ibumu dulu." wanita itu pergi meninggalkan Hiro lalu mendekati bibinya Hiro.
"apakah bibi baik baik saja ya..?" batin Hiro, mengkhawatirkan keadaan bibinya yang tadi dilukai oleh pamannya.
***
Tujuh tahun lalu Hiro adalah anak yang selalu terpaku pada kekuatan karena dia merasa jika dia kuat dia bisa melindungi bibinya dari pamannya. Hiro diadopsi oleh bibinya saat dia masih sangat kecil. Bibinya mengatakan bahwa orang tuanya Hiro memberikan Hiro kepadanya untuk menyelamatkan Hiro. Namun, Hiro tidak mengingat hal ini karena saat itu di belum mengerti apapun.
Bibinya mengatakan pada Hiro bahwa orang tua aslinya Hiro adalah orang yang hebat dan kuat sehingga bibinya berharap Hiro tumbuh menjadi orang yang hebat seperti orang tuanya. Namun, bukan hal itu yang membuat Hiro terpaku pada kekuatan.
Semenjak kecil Hiro selalu melihat keributan di rumahnya diakibatkan KDRT yang dilakukan oleh pamannya sehingga membuat Rianty yang masih kecil sering dititipkan di rumah ibu pemilik kontrakan dan mereka sering menginap di rumah ibu pemilik kontrakan. Sedangkan, Hiro tidak bisa membantu bibinya saat disiksa oleh pamannya karena tubuhnya yang masih kecil dan lemah waktu itu sehingga membuat Hiro berpikir bahwa kalau dia bisa menjadi orang kuat. Dia bisa melindungi bibinya. Semenjak saat itu Hiro sangat terpaku dengan kata kuat. Dia menjadi sangat termotivasi ketika mendengar kata kuat.
Ketika bibinya menyuruh Hiro makan bibinya mengatakan. "Hiro, makan yang banyak ya.. Biar bisa jadi anak yang kuat."
"apakah dengan makan yang banyak bisa membuatku jadi kuat lebih cepat?" tanya Hiro.
"iya, jika Hiro makan yang banyak. Hiro bisa jadi lebih kuat dan bertenaga." setelah mendengar ucapan bibinya Hiro menjadi semangat makan.
Saat di sekolahnya ada pelajaran senam dan olahraga. Ibu gurunya berkata. "anak anak kalian harus semangat ya.. Biar nanti bisa jadi anak yang kuat."
Hiro berjalan mendekati bu gurunya. "bu, apakah olahraga bisa membuatku kuat?"
"iya, nak. Jika kau selalu bangun pagi dan berolahraga maka kau akan memiliki tubuh yang kuat." semenjak mendapatkan jawaban dari bu gurunya Hiro selalu bangun pagi dan berolahraga sebisanya.
saat dia pulang dari sekolah Hiro tidak sengaja melihat mahasiswa sedang duduk sambil membaca buku di kursi taman.
Hiro mengeja tulisan di sampul buku yang dipegang oleh mahasiswa itu. "c-a ca, r-a ra, cara." Hiro mengeja sedikit sedikit nama buku itu sampai selesai. "cara memiliki mental yang kuat, kuat?!" Hiro terperanjat saat membaca kata kuat di sana. Hiro mendekati mahasiswa itu lalu berdiri di sampingnya. Hiro melihat tulisan isi dari buku itu lalu mengejanya. "s-e s-u tambah a." mahasiswa yang melihat Hiro sedang membaca buku yang dipegangnya menjadi terkejut.
"dek.. Ada apa ya..? Tanya mahasiswa itu heran.
"anu.. Kak, ini bacaannya apa ya.." Hiro menunjuk tulisan di buku mahasiswa itu.
"oh.. Ini adalah kata kata motivasi dek.. Sesuatu yang tidak membunuhmu, akan membuatmu semakin kuat."
Mata Hiro berbinar saat mendengar kata kuat. "wha.. Kuat? Apakah kakak bisa menjelaskannya padaku apa itu?! Aku ingin sekali menjadi kuat." pinta Hiro.
"hm.. Baiklah.. Begini. Jika seandainya kau ditimpah banyak masalah. Jangan menyerah. Tapi, hadapilah! Karena semakin banyak dan kuat cobaan yang kau hadapi maka kau akan menjadi semakin kuat." jelas mahasiswa itu.
Hiro memiringkan kepalanya kebingungan. "hm.. Apakah aku harus hidup dengan banyak masalah agar bisa menjadi kuat lebih cepat?"
Seketika mahasiswa itu menjadi kaget saat mendengar pertanyaan Hiro. "eh.. Jangan! Aduh.. Bagaimana ya.. Cara menjelaskannya? Iya, begini. Coba adek pukul aspal keras ini!" suruh mahasiswa itu.
Hiro menunduk lalu memukul keras aspal di bawahnya sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras sehingga membuat mahasiswa itu tersentak kaget.
"anu.. Tanganmu tidak apa apa?" tanya mahasiswa itu memastikan keadaan Hiro.
"aku baik baik saja," jawab Hiro dengan nada datar.
"hm.. Iya, bagaimana rasanya ketika kau memukul aspal itu?" mahasiswa itu terlihat khawatir melihat tangan Hiro yang memerah akibat memukul aspal.
"sakit," jawab Hiro singkat.
"hm.. Begitulah. Rasa sakit dan masalah itu sama. Saat kau baru pertama kali memukul benda keras tanganmu akan merasakan sakit. Namun, ketika kau sudah terlalu sering memukul benda keras itu tanganmu tidak akan terasa sakit lagi bahkan suatu saat nanti bukan tanganmu yang akan merasakan sakit. Namun, benda keras itulah yang akan hancur dipukul olehmu karena tanganmu sudah terlatih dan kau sudah menjadi kuat sehingga bisa menghancurkan benda keras itu. Begitu pula dengan masalah. Jika benda keras itu diibaratkan dengan masalah dan dirimu diibaratkan dengan tanganmu. Jadi, ketika ada masalah besar yang datang kepadamu, kau tidak boleh menyerah. kau harus bertahan lalu lawan masalah itu. Kau harus membuat dirimu terbiasa dengan masalah besar itu lalu kalahkan dia! Jadi, setiap masalah lain yang datang kepadamu ke depannya akan menjadi mudah untuk kau selesaikan karena kau sudah memiliki pengalaman dan mental yang kuat." Mahasiswa itu menjelaskan kepada Hiro tentang kata kata motivasi sesuatu yang tidak membunuhmu akan membuatmu semakin kuat. "Kau pahamkan dengan penjelasanku?" tanya mahasiswa itu kepada Hiro memastikan kalau Hiro benar benar sudah paham.
Hiro menatap takjub kepada mahasiswa itu. "wah.. Iya, aku sudah paham. Jadi, kalau aku terus memukul benda keras tanganku akan menjadi kuat. Hm.. Terimakasih kak sudah memberitahuku." Hiro berlari menjauh dari mahasiswa itu. "dadah.. Kak!"
Siswa itu tersentak kaget saat Hiro salah menangkap arti ucapannya. "ehh.. Anu bukan begitu maksudku." ucapan mahasiswa itu sudah tak terdengar lagi karena Hiro sudah berlari jauh. "aduh.. Sepertinya aku sudah menyesatkan jalan pikiran anak kecil. Aku harus bagaimana ini? Huh.. Tidak apa apa. Dia adalah anak kecil. dia tidak mungkin mengerti dan mempraktekan apa yang aku ucapkan tadi kan." mahasiswa itu merasa bersalah, melihat Hiro yang berjalan semakin menjauh darinya.
Hiro duduk lalu memukul kuat aspal di bawahnya. "aku harus membuat tanganku menjadi terbiasa dengan rasa sakit ini agar bisa menjadi lebih kuat." Hiro kembali memukul aspal itu. Namun, kali ini tangannya kesakitan karena tidak sengaja terkena batu batu kecil di aspal. Hiro berdiri sambil meringis memegang tangannya lalu berjalan pergi dari sana. Sedangkan mahasiswa yang melihat Hiro melakukan itu mengeluarkan keringat dingin karena saking takutnya.
"aku pendosa, aku benar benar berdosa. Aku sudah memberikan info sesat kepada anak kecil yang polos. Huh.. Jika tahu akan seperti ini aku tidak akan mengatakan apapun padanya. Aku sangat bodoh sampai lupa bahwa otak anak kecil itu berbeda dari orang dewasa. Jadi, penjelasan dan pemahaman pun pasti juga berbeda." mahasiswa itu berdiri dari kursi itu lalu pergi dengan perasaan bersalah.
Semenjak saat itu Hiro mendapatkan kebiasaan untuk memukul benda keras apapun saat ada kesempatan seperti rumah, bangunan, aspal, lantai dan pilar yang terbuat dari semen dan batu.
***
Hari sudah mulai malam. setelah memastikan keadaan Hiro dan keluarganya baik baik saja semua warga pergi membubarkan diri pulang ke rumah masing masing meninggalkan Hiro, Rianty dan bibi Hiro di rumah kontrakan. Rianty sudah tidur diatas kasur yang ada di kamar ditemani oleh kipas angin yang menyala.
Hiro duduk melamun di teras rumah melihat ke luar sambil tangannya terus memukul lantai rumahnya yang terbuat dari semen.
"Hiro, masuklah nak!" bibinya Hiro melihat Hiro melamun sambil terus memukul lantai. Bibinya Hiro keluar dari rumah lalu duduk di samping Hiro. "Hiro, lagi apa?"
"bi, apakah paman tukang barang bekas itu sudah datang?" tanya Hiro sambil terus memukul lantai.
"hm.. Kau benar benar sangat rajin ya.." bibinya Hiro mengusap kepalanya. "Sepertinya belum datang karena kalau sudah datang Rianty pasti akan memberitahumu." bibinya Hiro melihat beberapa luka lebam di pipi Hiro. "Hiro, wajahmu kenapa? Apakah karena dipukul oleh mas tadi? Apakah rasanya sakit." bibinya Hiro memegang dagu Hiro lalu mengarahkannya ke arah dirinya agar bisa melihat wajah Hiro lebih jelas. Bibinya mengkhawatirkan kondisi Hiro.
"bukan, orang itu tidak meninggalkan bekas luka apapun padaku." jawab Hiro dengan nada rendah.
"terus kenapa wajahmu jadi lebam lebam begini? Ceritalah dengan jujur Hiro!" tanya bibinya Hiro mencari keberadaan dari luka lebam di pipi Hiro.
"Tadi di pasar aku dikeroyok oleh preman yang ingin memalak uang hasil kerjaku. Namun, aku berhasil melarikan diri dari mereka," jawab Hiro jujur, memperhatikan wajah bibinya dengan tatapan malas.
Bibinya Hiro terlihat sangat khawatir dengan keadaan Hiro. "tunggu di sini!" bibinya Hiro masuk kembali ke dalam rumah lalu kembali sambil membawa minyak oles. bibinya Hiro menuangkan minyak oles itu ke jarinya lalu mengoleskannya ke wajah Hiro yang lebam.
"aku baik baik saja. Bibi tidak perlu mengobatiku!" Hiro melihat bibinya yang sedang mengoleskan minyak oles ke wajahnya dengan tatapan datar.
"Hiro, jujurlah pada bibi dimana sakitnya saat kau dipukul oleh mas tadi?" tanya bibinya Hiro dengan nada tegas, dia tahu betul bahwa Hiro selalu berbohong untuk menyembunyikan rasa sakitnya.
"aku baik baik saja," ucap Hiro dengan nada yang sedikit meninggi agar bibinya percaya akan ucapannya.
Bibinya Hiro tidak percaya dengan ucapan Hiro lalu mengoleskan minyak oles itu ke area dimana Hiro dipukul oleh pamannya tadi. "dasar, Hiro memanglah sangat kuat, tapi, walaupun begitu kau harus jujur dengan Bibi tentang rasa sakit yang dirasakan olehmu ya, biar kau bisa cepat bibi obati supaya Hiro sembuh."
"bi, aku tadi melihat kalau bibi hendak dipukul oleh orang itu, apakah sebelum aku datang orang itu sudah melukai bibi?" tanya Hiro balik kepada bibinya dengan nada pelan.
"hm.. Bibi baik baik saja kok." Bibinya Hiro tersenyum ceria, sambil terus mengosokkan minyak oles itu ditubuhnya.
"jika bibi saja berbohong mengenai keadaan bibi. Kenapa bibi menyuruhku jujur mengenai keadaanku?" Hiro menundukkan kepalanya, dia juga tahu betul bahwa bibinya itu sama sepertinya selalu bersikap sok kuat agar dirinya dan Rianty tidak khawatir.
"hm.. Baiklah bibi akan jujur sekarang. Tadi pukulan pamanmu memang terasa sangat sakit. Namun, saat melihat dirimu menahan rasa sakit dipukuli oleh pamanmu bibi merasa malu untuk menunjukkan rasa sakit bibi sehingga membuat rasa sakit bibi menjadi hilang akibat rasa malu itu. Nah.. Sekarang dirimu katakan semua rasa sakitmu pada bibi!" Bibinya mengatakan rasa sakitnya kepada Hiro, karena dia ingin mendengar apa yang Hiro rasakan sebenarnya.
"bibi benar benar baik baik saja? Apakah rasa sakit bibi benar benar hilang?" tanya Hiro khawatir.
"hm.. Iya, nah.. Sekarang Hiro katakan pada bibi ya.. Dimana yang sakit dengan jujur?!" bibinya tersenyum pada Hiro.
"hm.. Baiklah.. Tubuhku benar benar lelah sehabis bekerja. Semua tubuhku rasa sakit akibat dipukul oleh preman pasar ditambah lagi dipukul oleh orang itu. Rasanya aku akan mati. Namun, jika aku mati bagaimana dengan bibi dan Rianty? aku tidak bisa mati untuk melindungi kalian. Aku menyembunyikan rasa sakitku agar kalian tidak khawatir. Rasanya aku ingin sekali menangis. Namun, kalau aku menangis kalian juga ikut menangiskan. Jadi, aku tidak bisa melakukan itu ditambah lagi—" bibinya Hiro memeluk Hiro erat sehingga membuat Hiro menghentikan ucapannya, entah kenapa saat kata kata jujur Hiro membuat hatinya tersayat.
Bibinya Hiro menangis kecil sambil memeluk Hiro. "nak.. Terimakasih dan maafkan Bibinya ya. Seharusnya kau bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik." Bibinya Hiro merasa bersalah atas kehidupan keras yang dijalani oleh Hiro.
"maaf untuk apa? Aku sudah numpang tidur di sini dan diberi makan oleh bibi. Jadi, aku harus membayarnya." Hiro merogoh sakunya lalu mengambil uang lima puluh ribu hasil dari kerjanya di pasar dan pemberian ibu pemilik kontrakan dari dalam sana. Hiro memberikan uang itu kepada bibinya. Namun, bibinya Hiro menolak uang pemberian Hiro.
"nak.. Simpan saja uang itu bibi tidak sanggup untuk membelanjakan uang hasil jeri payahmu itu." bibinya Hiro menggenggam dan menutup kembali tangan Hiro yang menadah untuk memberikan uangnya padanya.
"kenapa?" tanya Hiro kebingungan.
Bibinya Hiro mengusap rambut Hiro. "nak.. apakah kau tidak memiliki satu hal yang kepingin kau beli?" tanya bibinya Hiro, dia merasa bahwa uang usaha Hiro itu, bukanlah haknya.
"tidak ada," jawab Hiro singkat.
"hm.. Simpanlah uang ini jika nanti ada hal yang kepingin Hiro beli gunakan saja uang ini ya.." Bibinya Hiro mengusap kepala Hiro, dia menyadari seharusnya anak sekecil Hiro tak perlu memikirkan soal uang. Namun, semua yang dilakukan oleh Hiro adalah inisiatifnya sendiri untuk membantu bibinya.
"hm.. Kenapa bibi tidak pernah mau menerima uang pemberianku? Setiap kali aku mendapatkan uang, uang itu pasti selalu habis untuk urusan sekolahku sendiri. Aku sangat benci sekolah karena itu buang buang uang." Hiro menatap bibinya kesal, menurutnya sekolah itu cuma menghabiskan uang hasil kerjanya saja.
"hm.. Sekolah itu penting untuk masa depanmu Hiro. Jadi, kau harus tetap belajar demi bisa mendapatkan peringat satu di sekolah ya!" nasehat bibinya Hiro kepadanya.
"males.. Ngapain belajar nggak dapat uang mendingan kerja," ucap Hiro dengan nada malas.
Bibinya Hiro tersenyum melihat Hiro. "nak, bibi tahu. Kau bekerja karena ingin menjadi lebih kuat karena ada orang yang bilang kepadamu bahwa laki laki akan menjadi lebih kuat pada saat bekerja. Namun, kau masih teramat kecil Hiro. Anak seusiamu seharusnya fokus saja dengan belajar pelajaran di sekolah. Jadi, bibi ingin memintamu berhenti bekerja di pasar lagi karena gaji bibi cukup untuk makan kita bertiga." bibinya Hiro mencoba untuk membujuknya. Namun, sepertinya tidak berhasil karena Hiro memalingkan wajahnya, tidak mendengarkan ucapannya.
"bibi.. Aku nggak mau berhenti bekerja," jawab Hiro singkat.
"kenapa? bukankah kau sendiri yang sering kepada bibi bahwa tubuhmu lelah dan sakit sehabis bekerja, Hiro. Tapi, kenapa kau tidak mau berhenti bekerja?" tanya bibinya Hiro dengan tegas.
"bi, rasa sakit yang tidak membunuhku akan membuatku semakin kuat. Jadi, sebelum aku mati aku tidak akan berhenti bekerja. Aku ingin menjadi kuat dan lebih cepat untuk melindungi bibi dan Rianty dari orang seperti orang itu." Hiro berdecak kesal karena kembali mengingat pamannya.
"hm.. bibi memang tidak bisa menyuruhmu untuk berhenti bekerja Hiro. Namun, ingatlah tidak ada yang memaksamu bekerja kau boleh berhenti jika tubuhmu kesakitan!" Bibinya Hiro tersenyum memahami keinginan Hiro. Sedangkan, Hiro hanya diam sambil terus memukul lantai teras rumahnya.
"Hiro, bibi ada hadiah untukmu. Tunggu di sini ya.." bibinya Hiro masuk ke dalam rumah lalu kembali keluar sambil menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Dia berjalan mendekati Hiro lalu menunjukkan sebuah kacamata hitam kepada Hiro. "tadaa.. Bibi membelikan ini untukmu. Kacamata hitam yang bisa memantulkan cahaya, kacamata ini disarankan oleh dokter untuk dirimu."
Hiro melihat datar kacamata itu. "berapa harganya?" tanya Hiro dengan nada curiga.
"jangan pikirkan itu! Hiro, apakah matamu masih sering iritasi dan berair?" tanya bibinya Hiro.
"iya, mataku masih akan terasa sakit dan berair hanya jika terkena sinar matahari secara langsung," jawab Hiro dengan jujur.
"nah.. Dengan kacamata ini matamu tidak akan terasa sakit lagi. Ambillah ini!" ucap bibinya Hiro.
Hiro mengambil kacamata di tangan bibinya. "huh.. Kenapa bibi membelikanku benda ini? Buang buang uang saja lebih baik dibelikan lauk, beras atau yang lainnya."
"nak.. Lauk dan beras itu memang penting. Namun, kesehatan jauh lebih penting. Jadi, kau terus menjaga kesehatanmu ya.. Bibi yakin kau akan tumbuh menjadi orang yang kuat dan hebat sama seperti orang tuamu." Bibinya Hiro mengusap kepalanya dan tersenyum hangat padanya.
Hiro merasa aneh, dia langsung berdiri dengan pipinya yang sedikit merona merah, dia berjalan hendak masuk ke dalam rumah. "bibi.. Aku ngantuk. Aku tidur duluan ya.. Oh.. Untuk uang spp sekolahnya Rianty dan aku pakai uangku saja. Bibi fokus aja cari uang buat beli lauk." Hiro meninggalkan bibinya di teras rumah, masuk ke dalam rumah.
***
Pagi itu, Hiro dan Rianty berjalan kaki menuju sekolah. Jalan setapak yang mereka lalui dipenuhi dengan dedaunan kering yang berguguran, menciptakan suara gemerisik setiap kali mereka melangkah. Sekolah mereka tidak terlalu jauh, hanya beberapa blok dari kontrakan. Hiro, seorang siswa kelas enam yang selalu tampak tenang dan penuh tanggung jawab, menggandeng tangan adiknya, Rianty, yang baru duduk di kelas tiga. Mereka berdua bersekolah di SD yang sama, sebuah sekolah kecil dengan dinding bercat kuning yang mulai memudar.
Sepulang sekolah, Hiro mengeluarkan sebuah karung dari dalam tasnya yang sudah lusuh. Dengan langkah mantap, ia mulai mengumpulkan barang-barang bekas yang bisa dijual. Rianty, dengan semangat anak kecil yang tak pernah padam, ikut membantu kakaknya. Mereka ditemani oleh dua teman sekolah Hiro, Abimanyu dan Satya, yang juga turut serta memasukkan barang rongsokan ke dalam karung.
Abimanyu dan Satya adalah murid kelas lima yang tidak memiliki teman selain satu sama lain. Suatu hari, mereka berdua dirundung oleh murid kelas enam. Hiro, dengan keberanian yang jarang terlihat pada anak seusianya, menolong mereka. Sejak saat itu, Abimanyu dan Satya selalu mengikuti Hiro kemanapun dia pergi. Meskipun Hiro sering mengusir mereka, kedua anak itu tetap setia di sisinya. Mereka menganggap Hiro sebagai sosok yang sama seperti mereka, seseorang yang dijauhi oleh murid lain. Padahal, kenyataannya, Hiro lah yang memilih untuk menjauhkan diri dari teman-temannya, meskipun banyak yang ingin bermain dengannya.
Satya, dengan rambutnya yang selalu acak-acakan dan kacamata tebal, serta Abimanyu, yang selalu tampak ceria meskipun sering dirundung, merasa menemukan sosok pelindung dalam diri Hiro. Mereka bertiga, bersama Rianty, menjadi tim kecil yang saling mendukung dalam menghadapi kerasnya kehidupan sehari-hari.
"kenapa kalian disini? Pulang sana!" usir Hiro saat melihat Abimanyu dan Satya masih terus mengikutinya.
"eh.. Kenapa? Padahal aku ingin membantu abang Hiro," ucap Abimanyu dengan semangat membantu Hiro mencari barang rongsokan di pinggir jalan.
"anak orang kaya seperti kalian tidak pantas memungut barang rongsokan sepertiku. Jadi, menjauhlah dariku! Karena aku tidak ingin dimarahi oleh orang tua kalian karena dikira menyuruh kalian membantuku." ucap Hiro dengan nada dingin, dia sama sekali tak pernah meminta anak anak ini untuk membantunya. Tapi, anak anak yang selalu berinisiatif untuk membantu apapun yang dia lakukan.
"itu nggak akan terjadi bang Hiro. Kami memungut sampah ini karena ingin membantu abang Hiro. Jadi, bang Hiro tidak akan dimarahi oleh ibuku lagian kami sudah biasa kok bergelut di tempat sampah." Satya mencoba memasukkan daun kering ke karung yang dibawa Hiro. Namun, Hiro segera menahan tangannya.
"woi.. Kau pikir aku ini pemungut sampah. Ambil yang plastik, beling, dan karet saja. Sampah daun mana bisa dijual." marah Hiro atas ketidaktahuan Satya.
"baik.. Abang Hiro." Satya terkejut saat Hiro memarahinya, dia membuang sampah daun itu lalu ngacir pergi mencari barang yang disebutkan oleh Hiro.
Hiro melihat Rianty memasukkan botol plastik ke dalam karung yang dibawanya. "Rianty, jangan ikut ikutan mereka. Nanti tanganmu bisa kotor!" Hiro berjalan mendekati botol plastik kosong yang ada di jalan. Hiro membungkuk mengambil botol itu lalu memasukkannya ke karung yang dibawanya.
"aku juga pengin bantu abang Hiro. Masa nggak boleh sih?" Rianty masih ke sana ke mari mencari barang yang bisa dijual untuk dimasukkan ke dalam karung yang dibawa Hiro.
"huh.. Terserah kalian saja. Namun, awas saja jika kalian memasukkan sampah yang tidak berguna ke dalam sini lalu merepotkanku." Hiro berjalan sambil melirik sudut sudut jalan untuk mencari barang bekas yang bisa dijual.
Abimanyu berjalan mendekati Hiro. "abang Hiro.. Sudah seminggu ini aku sudah ikut belajar beladiri lho.." Abimanyu dengan ceria menceritakan kegiatannya baru baru ini kepada Hiro.
"oh.. Begitu.. Yaudah." jawab Hiro cuek, tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Abimanyu dan masih fokus ke sana kemari menjadi barang bekas.
Abimanyu terlihat kesal karena tidak dipedulikan oleh Hiro, dia mendekati Hiro dan merengek. "hm.. Dengerkan aku dulu bang Hiro! Abang Hiro kan pengin jadi kuat. Kata ibuku kalau mau jadi kuat harus belajar beladiri dulu. Jadi, bang Hiro mau nggak aku ajarin bela diri supaya bisa jadi kuat lebih cepat?"
Saat mendengar cerita Abimanyu Hiro menghentikan kegiatannya lalu menatap serius teman kecilnya itu. "bagaimana caranya melakukan beladiri itu? Ayo ajarkan padaku sekarang!" Hiro menatap serius Abimanyu, menunggu jawaban darinya.
"eh.. Ada apa ini?" Satya mendekati mereka saat melihat Hiro dan Abimanyu berhenti mencari barang.
"hey.. Waktu itu kau bilang padaku ingin ikut belajar beladiri juga kan agar bisa kuat seperti abang Hiro. Apakah kau sudah menemukan tempat beladiri yang bagus?" Tanya Abimanyu kepada Satya yang berjalan mendekat ke mereka berdua.
"hm.. Ibuku masih mencarikan tempat untuk aku bisa belajar beladiri. Namun, masih belum ketemu," ucap Satya menjelaskan keadaannya.
"hehe.. Orang tuaku sudah menemukan tempat beladiri sehingga sekarang aku sudah mulai belajar beladiri." Abimanyu tersenyum lebar menyombongkan diri.
"wah.. Sungguh kau belajar beladiri apa?" tanya Satya antusias.
"hoi.. Kenapa kalian berdua jadi sibuk sendiri? Kau, cepat ajarkan padaku bagaimana cara melakukan beladiri itu!" Hiro menatap dingin ke arah dua anak di depannya, karena kesal diabaikan. Dia benar benar tidak sabar untuk melihat bagaimana beladiri bisa membuat seseorang menjadi semakin kuat.
"iya, tolong perlihatkanlah padaku juga sedikit gerakan beladirimu mungkin aku akan mengatakan pada ibuku untuk belajar beladiri di tempatmu juga," ucap Satya antusias tidak sabar melihat gerakan beladiri Abimanyu.
"hehe.. Bersiaplah untuk kagum pada gerakan beladiriku." Abimanyu memasang kuda kuda lalu mulai memukul angin di depan. "lihatlah pukulan cepat sekali bukan?" dia menyombongkan dirinya. Namun, dia masih pemula pukulannya masih acak dan lemah.
Hiro dan Satya hanya memiringkan kepalanya Heran melihat Abimanyu yang memukul acak acakan ke arah depan.
"he.. Cuma pukulan doang? tidak keren. Aku tidak mau belajar di tempat yang sama denganmu." Satya berjalan menjauh, kembali mencari barang bekas untuk Hiro.
"hey.. Tunggu! Kenapa kau tidak melihat pukulanku yang hebat ini?" Abimanyu terlihat kesal dengan reaksi mereka berdua, tidak seperti yang diharapkannya.
"Cih.. Kupikir kau benar benar belajar beladiri yang bisa aku contoh supaya aku bisa menjadi lebih kuat dengan cepat. Namun, ternyata itu cuma omong kosong." Hiro berjalan pergi meninggalkan Abimanyu dan meneruskan kegiatannya.
"he.. Kenapa kalian tidak percaya padaku. Pukulanku ini benar benar kuat lho.. Aku bahkan bisa merobohkan orang dewasa hanya dengan satu pukulan kata ibuku." Abimanyu merasa kecewa karena usahanya tidak diapresiasi oleh Hiro.
Rianty mendekati Abimanyu dan mencoba untuk menghiburnya. "aku percaya kok bahwa kakak benar benar kuat. Kakak pasti akan menjadi orang yang hebat suatu hari nanti." Rianty tersenyum lebar dan menyemangati Abimanyu lalu berjalan ke arah Hiro sambil membawa botol beling bekas.
"adiknya bang Hiro. Kau benar benar baik. Iya, aku akan membuktikan pada abang Hiro bahwa aku akan jadi lebih kuat dari pada dirinya dengan beladiri yang kupelajari ini." Abimanyu berbalik ke arah Hiro dan Satya. "padahal aku sudah susah payah dan kelelahan belajar di tempat beladiri itu. Namun, kalian berdua malah mengatakan bahwa aku cuma omong kosong. Jika nanti kalian berdua terkena masalah aku tidak akan membantu dan melindungi kalian. Aku cuma akan melindungi adikknya bang Hiro dengan beladiriku." celoteh Abimanyu dengan nada kesal.
"Rianty, jangan dekat dekat dengannya! mereka berdua ini adalah orang aneh oleh karena itu mereka tidak mempunyai teman. Aku takut jika kau mendekati mereka berdua kau akan ketularan aneh seperti mereka." Nasehat Hiro kepada Rianty yang dibalas tawa kecil oleh Rianty.
"aku bisa mendengarnya," teriak Abimanyu kesal.
"iya, nie.. Padahalkan bang Hiro. Juga tidak punya teman tapi kenapa malah terus mengejek kami aneh karena tidak punya teman," ucap Satya memprotes Hiro.
"bedalah. Kalian itu culun, lemah, payah, besar mulut doang, korban bully, ditambah lagi sukanya halu menjadi jagoan padahal mah baru digertak doang langsung nangis. kalian sendirian karena dijauhi sehingga tidak punya teman sedangkan Aku sendirian itu karena aku menolak berteman. Kita nggak sama," jawab Hiro dengan nada datar yang langsung membuat Satya tertampar fakta.
"hey.. Apakah ada bocah yang bernama Hiro di sini?" terdapat lima orang murid SMP menghadang langkah Hiro dan teman temannya yang sedang mencari barang rongsokan.
Hiro melihat lima orang murid smp itu. "ini adalah Hiro. Kalian mau apa?" Hiro menunjuk Abimanyu dengan raut wajah yang datar.
Abimanyu seketika panik saat Hiro memperkenalkan dirinya sebagai Hiro kepada segerombolan murid smp itu. "abang Hiro apa apaan sih?" bisiknya kasar.
"oh.. Jadi kau yang namanya Hiro. Aku adalah orang terkuat di SMP ku. Namun, katanya aku belum menjadi yang terkuat. Jika belum bisa mengalahkan bocah SD yang bernama Hiro. Jadi, aku datang ke sini untuk menantangmu bertarung satu lawan satu," tantang ketua dari murid SMP itu.
"wah.. Kau tidak akan bisa mengalahkan orang ini karena kata ibunya dia bisa merobohkan satu orang dewasa hanya dengan satu pukulan. Ayo lawan dia!" Hiro mendorong Abimanyu mendekat ke gerombolan murid SMP di sana dengan wajahnya yang terlihat cuek.
Rianty dan Satya segera bersembunyi di belakang Hiro saat melihat gerombolan murid smp itu. "Bang Hiro, kita harus gimana nih?" tanya Rianty ketakutan.
"apakah tidak apa apa jika abang Hiro melakukan hal ini kepadanya?" bisik Satya pelan kepada Hiro.
"dia sendiri kan yang bilang bahwa dia memiliki pukulan yang kuat. Jadi, aku ingin melihat seberapa kuat pukulannya," jawab Hiro tanya mengubah ekspresinya. Dia ingin melihat seberapa kuat pukulan Abimanyu yang sudah ikut beladiri sekarang.
"bang Hiro nggak boleh seperti ini! Bang Hiro harus membantu kakak itu!" bisik Rianty, mengkhawatirkan apa yang akan terjadi dengan Abimanyu.
"Rianty, kau diam saja dan berdirilah di belakangku! Aku tidak akan membiarkan dirimu terluka." Hiro mendorong Rianty ke belakang dirinya dengan lembut, memastikan bahwa Rianty tetap baik baik saja di belakangnya.
"wah.. Ngeri juga ya.. Bagaimana kalau kita buktikan rumor itu. Ayo kita bertarung!" ajak anak SMP itu kepada Abimanyu yang kini berada di depannya.
Abimanyu terlihat gemetar ketakutan melihat anak SMP di depannya. "anu.. Aku bukan." dia sekarang sangat panik sampai kata katanya menjadi tidak jelas.
"ayo buktikan pada mereka bahwa kau memiliki pukulan yang hebat." sorak Hiro, menurunkan tas ke bawah lalu membukanya. Hiro kemudian mengambil sebuah benda dari sana.
"iya, ayo kita mulai." murid SMP itu mencoba memukul Abimanyu. Secara refleks Abimanyu menghindari pukulan murid SMP itu dengan menekuk tubuhnya ke bawah.
Abimanyu menjadi sangat percaya diri saat berhasil menghindari pukulan dari murid SMP itu dengan cepat dia memberikan pukulan balasan. "rasakanlah pukulanku yang hebat ini!" pukulan Abimanyu mengenai tubuh murid SMP itu. Namun, murid SMP itu tidak bergerak dari tempatnya karena lemahnya kekuatan pukulan dari Abimanyu.
Abimanyu langsung kembali merasa ketakutan saat pukulan tidak memberikan serangan yang berarti kepada murid SMP itu. Dia mengangkat kepalanya melihat wajah murid SMP di depannya yang marah, Murid SMP itu mengepalkan tangannya dan memukul wajah Abimanyu sekuat tenaga sehingga membuat Abimanyu terjatuh ke belakang.
Satya berlari keluar dari belakang Hiro lalu mendekati Abimanyu untuk membantunya berdiri. Abimanyu terlihat ingin menangis karena kesakitan setelah dipukul oleh murid SMP di depannya.
"he.. Rupanya cuma segini. Kekuatan dari orang yang dibicarakan itu lemah banget." ejek murid SMP kepada Abimanyu.
"iya, dia sudah kalah dan kau sudah menang. Jadi, kau boleh pergi sekarang." Hiro berjalan mendekati Abimanyu perlahan sambil merangkul Rianty yang ketakutan.
"wah.. Padahal aku sudah mengalahkannya. Tapi, kenapa aku belum merasa puas ya.." murid SMP itu berjalan mendekati Abimanyu, melihat hal itu Abimanyu segera menangis ketakutan.
Hiro mendorong murid smp itu sehingga dia terdorong beberapa langkah ke belakang sampai ditahan oleh temannya. "dia sudah kalahkan? Jadi, pergilah dari sini! Atau aku akan menusukmu menggunakan penaku!" Hiro mengacungkan pena ke arah murid SMP itu mengancamnya untuk segera pergi dengan tatapan yang dingin.
Salah satu teman murid SMP itu berbisik kepadanya bahwa murid SD yang mengancam menggunakan pena itu adalah Hiro yang asli sehingga membuat murid SMP itu marah karena merasa ditipu.
"apakah benar bahwa kau adalah Hiro yang asli?" tanya murid smp itu memastikan bahwa apa yang dikatakan temannya itu benar.
"iya, jadi, menjauhlah dariku! Atau aku akan menusukmu menggunakan pena ini!" ancam Hiro sambil mengarahkan ujung pena itu ke murid smp di depannya.
Murid SMP itu tersenyum sambil berjalan perlahan mendekati Hiro. "haha.. Menusukku? Aku tidak yakin bahwa kau punya keberanian untuk—" ucapannya terhenti saat Hiro menusukkan penanya ke bahu murid smp itu sehingga meninggalkan bekas tinta di bahu baju murid SMP itu tusukan Hiro memang kecil. Namun, cukup untuk membuat murid smp itu kesakitan. Hiro berputar lalu memukul alat vital murid SMP itu sehingga dia mundur kesakitan.
Hiro melompat lalu memeluk leher murid SMP itu lalu mengigitnya sehingga membuat murid SMP itu berteriak kesakitan mencoba menarik tubuh Hiro agar terlepas dari lehernya. Namun, Hiro berhasil menembus kulit leher murid SMP itu menggunakan gigi taringnya sehingga membuat leher murid smp itu mengeluarkan darah. Setelah itu Hiro melompat ke belakang kembali mendekati teman temannya.
Murid SMP itu memegang lehernya dan melihat di tangannya darah yang keluar dari lehernya akibat gigitan Hiro. "sial*n!" murid SMP itu sangat marah, dia hendak berjalan mendekati Hiro. Namun, Hiro kembali mengacungkan pena yang dipegangnya ke arah murid smp itu.
"kali ini bukan bahumu yang akan aku tusuk. Tapi, matamu." Hiro menatap semua murid smp di depannya dengan tatapan tajam dan dingin seolah mengatakan bahwa mereka semua akan mati kalau tidak segera pergi dari sini.
Ucapan Hiro seketika membuat murid SMP bergidik ngeri dan ragu untuk mendekatinya sehingga mereka semua akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan Hiro bersama teman temannya.
Melihat murid murid SMP itu pergi Hiro masukkan kembali penanya ke dalam tasnya. Dia berjalan mendekati Abimanyu yang sedang menangis dihibur oleh Satya dan Rianty.
Hiro menatap datar langsung ke mata Abimanyu. "beladirimu nggak guna, sampah. Jangan bermulut besar jika kau hanya memiliki kemampuan yang kecil karena perubahan hanya bisa terjadi dengan perbuatan bukan hanya dengan perkataan." Hiro menarik tangan Rianty. "ayo pulang!"
Abimanyu berdiri sambil mengepalkan tangannya mendengar ucapan Hiro. Matanya masih mengeluarkan air. "bang Hiro.. Lihatlah suatu saat nanti aku pasti akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi orang yang kuat dengan beladiriku ini. Aku pasti akan mengalahkan abang Hiro." teriak Abimanyu keras, sebuah tekad tertanam di dalam dirinya.
"iya, udah selesai ngebacotnya? Naiklah ke punggungku!" Hiro berdiri membelakangi Abimanyu. "Aku akan menggendongmu sampai kita berpisah dibelokkan arah jalan rumah kita yang berbeda." dia sedikit menurunkan punggungnya agar memudahkanmu Abimanyu untuk menaikinya.
"setelah abang Hiro mengejek beladiriku, sekarang abang mau menggendongku? Aku maksudnya ini? Bang Hiro mau mempermalukanku? Aku tidak mau." tolak keras Abimanyu sambil menatap kesal ke arah Hiro.
"Abimanyu, jalan hidup yang kita lalui berbeda. Aku harus jadi kuat lebih cepat karena aku harus kuat untuk menghadapi hidupku. Namun, walaupun kau lemah kau tetap hidup dengan baik karena kau memiliki orang tua yang masih sehat. Jadi, jangan ikut campur urusanku jika kau tidak cukup kuat untuk menahan akibatnya. Aku tidak mau kalian terluka." ucap Hiro dingin seakan tak peduli. Namun, Rianty, Satya, dan Abimanyu yang mendengarnya terlihat mengerti arti dari ucapan Hiro.
"bang Hiro, aku pasti akan mempelajari beladiriku ini sungguh sungguh agar dapat menjadi lebih kuat supaya bisa membantu abang Hiro menyelesaikan urusan dan masalahnya." Abimanyu terlihat bersemangat, menatap serius penuh tekad ke arah Hiro.
"hm.. Jangan pernah mengatakan keahlian yang belum kau kuasai kepada orang lain karena itu sama saja dengan mempermalukan dirimu sendiri." Hiro mengambil karung berisi barang bekas dia jatuhkan tadi. "yaudah kalau kau tidak mau aku gendong. Ayo kita jalan lagi!" Hiro berjalan lagi sambil membawa karung, mereka kembali mengumpulkan sampah bekas.
"oh.. Ya.. Ngomong ngomong pukulanmu sangat kuat ya.. Sampai sampai bisa merobohkan satu orang dewasa dengan sekali pukulan, kata ibumu. Sekarang aku paham bahwa ibumu itu cuma bohong untuk membuatmu senang dan tetap belajar beladiri seperti biasa," ejek Hiro sambil tersenyum tipis. Yang membuat Rianty dan Satya tertawa kecil saat mendengarnya.
Abimanyu merasa malu, dengan wajah memerah dia merengek kepada Hiro. "abang Hiro, bagaimana mungkin aku bisa menjadi lebih kuat secepat itu aku kan baru dua hari belajar beladiri. Ibuku bilang setidaknya aku harus belajar beladiri satu bulan kalau mau jadi kuat. Lihatlah bang Hiro! Dalam satu bulan ini aku pasti akan menjadi lebih kuat bahkan bisa mengalahkan abang Hiro." ucapnya penuh keyakinan.
"aku ragu ibumu akan jujur kali ini." Hiro mengambil sebuah botol plastik dan memasukkan ke dalam karung. Lagi lagi ucapan Hiro berhasil membuat Rianty dan Satya tertawa saat mendengarnya. Abimanyu memalingkan wajahnya karena malu.
"Abimanyu, Satya, aku tidak ingin menjadi teman kalian dan aku juga tidak ingin bermusuhan dengan kalian apalagi membuat kalian sampai membenciku. Namun, jika kalian memang ingin menjadikanku teman kalian maka buktikanlah bahwa kalian layak untuk itu. Jangan buat aku jadi seperti induk ayam yang selalu kalian jadikan tempat perlindungan setiap kali kalian terkena masalah. Sesekali berusaha untuk menghadapi masalah kalian sendiri. Berusaha dengan menggunakan usaha kalian sendiri. Dan jangan pernah mengharapkan bantuan dariku jika kalian belum bisa membantuku apapun karena itu sangat menyusahkanku." Hiro menatap datar ke arah kedua anak di sampingnya, memberikan nasehat kepada Satya dan Abimanyu.
"abang Hiro, aku akan menjadi orang yang sangat kuat sampai sampai bisa menghadapi musuh musuh abang Hiro dengan kekuatanku," ucap Abimanyu dengan percaya diri.
"iya, aku juga akan berusah menjadi orang yang hebat sehingga bisa membantu menyelesaikan urusan dan masalah yang bang Hiro alami," ucap Satya menimpali ucapan Abimanyu.
"huh.. Kalian berdua benar benar bocah aneh yang merepotkan." Hiro berbalik badan menghadap dua temannya itu. "berjanjilah jika kalian sudah lebih dewasa, kalian akan menjadi sosok yang melindungi. Dan tidak lagi menjadi sosok yang dilindungi?!"
"iya, jika kalian kakak berdua nanti menjadi orang kuat dan hebat. Aku juga mau dilindungi oleh kalian ya.." Rianty mengangkat tangannya, tersenyum ceria. menatap kakak dan kedua temannya itu.
"Aku berjanji bang Hiro. Aku juga berjanji untuk melindungi adiknya bang Hiro." ucap Abimanyu berjanji dengan sungguh sungguh.
"iya, aku pasti akan membantu masalah kalian jika aku sudah menjadi orang hebat nanti. Aku pasti akan membantu masalah kalian berdua, bang Hiro dan Adiknya. Aku juga akan melindungi semua orang sama seperti yang bang Hiro lakukan padaku." Satya dengan nada serius ikut berjanji kepada Hiro.
mereka semua kemudian pulang berjalan kaki sambil mengumpulkan barang bekas yang mereka temukan dijalanan.
Abimanyu dan Satya berpisah di persimpangan jalan karena arah rumah mereka yang berbeda dengan rumah Hiro.
Hiro dan Rianty melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah. Jalanan yang mereka lalui semakin sepi, hanya terdengar suara langkah kaki mereka dan sesekali suara kendaraan yang melintas. Setibanya di rumah, Hiro meletakkan karung berisi barang bekas di samping rumah. Mereka masuk ke dalam rumah, dan Hiro segera menjatuhkan tasnya ke lantai. Dengan cepat, ia membuka seragam sekolahnya, memperlihatkan kaos hitam dan celana pendek yang dikenakannya di balik seragam.
“Rianty, tolong bereskan ini ya… Aku mau pergi ke pasar!” kata Hiro sambil berjalan menuju pintu.
Rianty, yang merasa kesal, segera menanggapi, “Bang Hiro, jangan seenaknya begini dong. Jangan mentang-mentang Bang Hiro udah kerja, Bang Hiro malah memperlakukanku seperti pembantu.” Biasanya, Hiro tidak pernah berbuat seenaknya begini. Setelah pulang sekolah, Hiro selalu memasukkan bajunya ke wadah baju kotor dan menggantungkan tasnya di tempatnya.
Hiro berhenti sejenak, menatap adiknya dengan rasa bersalah. “Maaf ya… Sudah merepotkanmu. Tolong jaga rumah selagi aku dan bibi pergi,” katanya dengan nada lembut sebelum melangkah keluar dari rumah.
Di luar, Hiro merasakan perasaan tidak enak yang menggelayuti hatinya. “Perasaanku tidak enak sehingga aku tidak ingin pergi ke pasar hari ini. Namun, jika aku tidak pergi ke pasar maka aku tidak akan mendapatkan uang,” pikirnya. Meskipun demikian, Hiro mengabaikan perasaannya dan tetap berjalan menuju pasar, berharap semuanya akan baik-baik saja.
***
Hari sudah mulai sore, langit berwarna jingga keemasan saat Hiro melangkah keluar dari pasar tradisional, tempatnya bekerja. Setelah menerima gaji dari bosnya, Hiro merasa lega dan sedikit lelah. Dia berpamitan kepada rekan-rekannya dan mulai berjalan pulang, melewati jalan-jalan sempit yang sudah dikenalnya dengan baik.
Di tengah perjalanan, Hiro mendengar suara teriakan yang tertahan dari arah belakang sebuah gedung tua yang sudah lama tidak terpakai. Suara itu terdengar samar, hampir tertelan oleh kebisingan kota. Hiro mengabaikannya pada awalnya, berpikir mungkin itu hanya suara anak-anak yang bermain atau seseorang yang sedang bercanda.
Namun, langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara yang lebih jelas, “Jangan ambil semua uangku! Ini untuk anakku dan Hiro.” Jantung Hiro berdegup kencang. Dia mengenali suara itu. “Bibi?” gumamnya dengan cemas.
Tanpa berpikir panjang, Hiro berlari menuju celah sempit di antara gedung-gedung, mencoba mencari asal suara tersebut. dan Benar saja, Hiro melihat bibinya yang sedang dirampok oleh dua orang pria dewasa. Salah satu dari mereka menarik tas yang dipakai oleh bibinya sedangkan bibinya berusaha untuk mempertahankan tas miliknya agar tidak diambil oleh pria itu.
Hiro berlari ke arah mereka, mendorong pria dewasa itu agar melepaskan bibinya. Hiro kemudian berdiri di depan bibinya untuk melindunginya.
"Hiro, kenapa kau bisa ada di sini?" bibinya Hiro kaget melihat kedatangan Hiro.
Pria dewasa yang didorong oleh Hiro tadi segera mendekat ke arah Hiro kembali dengan raut wajah yang kesal. "anak kecil sia*n, jangan ikut campur!" pria dewasa itu hendak memukul Hiro. Namun, Hiro menekuk tubuhnya ke bawah, menghindari pukulan itu dengan cepat. Hiro berdiri tegak kembali lalu memukul dagu orang itu.
Temannya perampok itu juga hendak memukul Hiro, raut wajahnya kesal karena aksinya diganggu oleh Hiro. "anak kecil, kurang ajar!"
Hiro menghindari pukulan orang itu dengan melompat ke samping lalu memukul alat vitalnya sehingga membuat orang itu menjadi kesakitan.
"bibi ayo lari!" Hiro menarik lengan bibinya untuk segera melarikan diri dari sana. Hiro dan bibinya berlari dari sana dikejar oleh dua pria itu. Namun, karena langkah Hiro yang kecil, pria itu berhasil menangkap tangan Hiro.
"bibi, larilah! Jangan pikirkan aku! Aku pasti akan baik baik saja." Hiro menggigit tangan pria yang menangkap dirinya sehingga membuatnya pria meringis kesakitan. Hiro segera berbalik badan hendak memukul perut pria itu. Namun, dari samping temannya pria itu memukul bagian belakang tubuh Hiro sampai membuat Hiro tersungkur ke bawah.
Pria itu memegang dan mengangkat tubuh Hiro melalui pinggangnya. Hiro memukul wajah pria yang mengangkatnya itu. Pria itu merasa kesakitan, dengan amarah dia melemparkan tubuh kecil Hiro menghantam dinding gedung di sebelahnya.
Pria itu terus terusan memukul wajah Hiro sambil memaki makinya. Hiro menahan pukulan terakhir dari pria itu lalu dengan cepat memukul alat vitalnya sehingga membuat pria itu mundur kesakitan sambil memegang alat vitalnya.
Temannya pria itu marah lalu hendak memukul Hiro. Namun, Hiro menunduk menghindari pukulannya, dia bergerak maju ke arah belakang pria itu lalu melompat ke atas punggung pria itu. Hiro berpegang di tubuh pria itu sambil mengigit lehernya sehingga membuat pria itu mundur sambil mencoba menarik Hiro agar lepas dari lehernya.
"anak sial*n!" teriakan pria di belakangnya membuat Hiro melepaskan gigitannya lalu menoleh ke belakang. Mata Hiro terbelalak saat melihat pria itu memegang pisau dan hendak menusukkan pisau itu kepadanya.
Hiro memejamkan matanya ketakutan. Namun, beberapa saat berlalu, dia tidak merasakan apa apa. Saat dia kembali membuka mata Hiro melihat bibinya menghalangi pisau yang mencoba menusuk dirinya sehingga membuat bibinya Hiro yang tertusuk pisau itu. "bibi," lirih Hiro saat melihat darah bibinya mengalir dari perut bibinya yang tertusuk oleh pisau.
Dua pria itu panik saat melihat bibinya Hiro tertusuk pisau. Pria itu yang menusuk bibinya Hiro menarik pisaunya dari perut bibinya Hiro dan memilih untuk kabur bersama temannya.
Bibinya Hiro berlutut sambil meringis kesakitan memegang perutnya yang masih mengeluarkan darah akibat tertusuk pisau.
Hiro mendekati bibinya lalu berjongkok di dekat bibinya. "bibi luka? Sakit ya?" tanya Hiro dengan polosnya saat ini tidak tahu harus melakukan apa.
Bibinya Hiro mengusap pipi Hiro pelan sambil tersenyum menatap wajah itu dengan detail, pandangannya mulai kabur. "iya, sakit." bibinya Hiro mencoba untuk menutupi rasa sakitnya dengan tersenyum, tidak mau membuat Hiro mengkhawatirkannya.
Hiro melepaskan bajunya lalu mengikatnya ke perut bibinya yang terluka. "ayo pulang!biar luka bibi aku obati. bibi pasti bisa sembuh." Hiro merangkul bibinya, membantunya berdiri dengan susah payah. Hiro meletakkan tangan pipinya di atas bahunya dan membantu bibinya berjalan selangkah demi selangkah.
"iya, bibi pasti akan sembuh jika diobati oleh kau dan Ririn." Bibinya Hiro meringis kesakitan. Dia berjalan tertatih tatih dibantu oleh Hiro, dia terus tersenyum dan sekuat tenaga mempertahankan kesadarannya.
"kenapa bibi melakukan ini? Kenapa bibi melindungiku? Bibi tahukan kalau aku ini kuat. Jadi, aku pasti akan baik baik saja." Hiro menoleh ke arah bibinya, dari raut wajahnya terlihat bahwa dia sangat khawatir dengan keadaan bibinya.
"Hiro, kau masih amat kecil nak. Bibi sudah menganggapmu seperti anak kandung bibi sendiri. Maafkan bibi yang tidak bisa memberikan kehidupan yang baik kepadamu dan sering membuatmu terluka saat melindungiku. Jalanmu masih amat panjang Kau bahkan belum menikmati usaha yang telah kau bangun." bibinya hendak terjatuh karena sudah tidak kuat lagi. Hiro segera menahan tubuh bibinya agar tidak terjatuh.
Hiro menaikkan bibinya ke pundaknya lalu menggendongnya. "bibi, jangan bicara! Nanti sakit bibi bisa jadi lebih parah." Hiro berjalan sambil meringis, tubuh kecilnya yang sudah lelah sehabis bekerja kini menggendong bibinya yang memiliki berat tubuh melebihi dirinya. Tapi, dia tak menyerah, perlahan Hiro berjalan melewati gang untuk menuju rumahnya. Hiro meringis karena tidak kuat lagi untuk menggendong bibinya. "aku sudah nggak kuat bi, apakah bibi bisa jalan sendiri?" tanya Hiro kepada bibinya yang ada di punggungnya.
"hm.. Maaf ya.. Terimakasih." jawab Bibinya dengan nada yang sangat lemah.
Hiro yang mendengar ucapan bibinya yang semakin melemah seperti mendapatkan kekuatan lebih untuk terus bertahan. Hiro berteriak mengerang lalu berlari sambil menggendong bibinya. Hiro segera masuk ke dalam rumahnya dan meletakkan bibinya perlahan lahan ke bawah. Hiro memegang kakinya kesakitan, menatap bibinya sudah terkulai lemah. "Rianty, cepat kemari!" panggil Hiro, dia menyingkap bagian bawah baju bibinya dan melihat lubang yang cukup besar di perut bibinya yang terus mengeluarkan darah ketika dia mengangkat ikatan di perut bibinya.
Hiro mencengkeram rambutnya sendiri karena kesal. "sial.. Ini adalah salahku, kenapa tidak aku saja yang ditusuk oleh pisau itu? Kenapa malah bibi? Gara gara aku bibi jadi terluka." Hiro merasa bersalah atas apa yang terjadi saat ini. Pikirannya sangat kacau tak tahu apa yang harus dia lakukan terus menerus dia menyalahkan dirinya sendiri.
Rianty berjalan mendekati Hiro. "ada apa sih bang?" Rianty segera berlutut di dekat ibunya saat melihat ibunya terbaring lemah di lantai. Saat melihat darah di perut ibunya, seketika Rianty menjadi histeris lalu menangis. "ibu.. Ibu kenapa? Ibu sakit? Bang Hiro, ibu kenapa?" Rianty mengoyang goyangkan tubuh Hiro mencari jawaban atas apa yang terjadi saat ini.
"ini salahku? Bibi begini karena melindungiku. Tapi, kenapa? Kenapa? Kenapa bibi melindungiku?" tanya Hiro tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh bibinya, dalam kebingungan itu tanpa sadar air matanya hampir tumpah melihat kondisi bibinya yang semakin melemah. Namun, segera mengusapnya karena tidak mau terlihat lemah dan tidak mau mengakui bahwa dia menangis.
Bibinya Hiro meringis lalu melirih. "Rianty, Hiro, kalian anak yang baik teruslah hidup menjadi anak yang baik ya.. Hiro tolong jaga Rianty! Ini bukanlah salahmu. Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau dan Rianty adalah nyawa bibi. Hiro." bibinya Hiro berbicara terbata bata sambil menahan rasa sakit. "Hiro, bibi sudah merasa tidak kuat lagi. Namun, hidupmu harus terus berlanjut. Dalam hidup kau mungkin akan bertemu dengan berbagai macam orang, orang yang baik akan memberikanmu kebahagiaan dan orang yang tidak sejalan denganmu akan memberikan pelajaran dan pandangan baru untukmu. Pengalamanmu dengan orang baru akan membuatmu mendapatkan pelajaran baru. Namun, diantara itu kau pasti akan menemukan orang baik yang selalu membuatmu nyaman, tenang, sehingga membuatmu seakan bisa berbagi segalanya denganmu yang ingin sekali, kau lindungi melebihi nyawamu sendiri. saat itu kau akan mengerti rasa bahagia yang bibi rasakan sekarang saat berhasil melindungimu. Kau anak yang kuat Hiro. Jadi, gunakanlah kekuatanmu untuk melindungi dan membantu orang yang berharga bagimu semampu dirimu maka dengan begitu kau akan selalu hidup dikelilingi oleh orang orang yang akan menyembuhkanmu." Bibinya Hiro memuntahkan darah sehingga membuat Rianty dan Hiro terkejut dengan pemandangan itu.
Hiro berdiri dan berlari keluar dari rumah. "bibi ngobrol aja ya.. Sama Rianty! Aku mau ke rumah mpok untuk menceritakan kondisi bibi dan menanyakan obat apa yang bisa membuat bibi sembuh. Rianty tolong jaga bibi sampai aku kembali." teriak Hiro. Dia tidak bisa seperti ini, dia tidak bisa diam saja saat melihat bibinya kesakitan. Dia harus mencari bantuan seseorang. Dan saat itu, Hiro teringat dengan ibu pemilik kontrakan.
Hiro segera berlari menuju rumah ibu pemilik kontrakan dan berteriak memanggilnya. ibu pemilik kontrakan keluar dari rumahnya dengan perasaan khawatir, dia sebelumnya tidak mendengar Hiro berteriak sepilu itu. bibi pemilik kontrakan, berjalan mendekati Hiro. "ada apa nak Hiro? Kenapa kau teriak teriak memanggil mpok?" tanya ibu pemilik kontrakan dengan nada risau.
"mpok, perut bibi ditusuk oleh penjahat menggunakan pisau. Aku ingin bertanya apakah mpok mempunyai obat yang bisa membuat bibi sembuh atau mpok punya rekomendasi nama obat agar aku bisa segera membelinya di warung." Hiro bertanya dengan nada panik, dia ingin secepat bibinya ditolong dan sembuh.
Ibu pemilik kontrakan itu sangat panik saat mendengar kondisi bibinya Hiro. "apa.. Ibumu ditusuk oleh penjahat menggunakan pisau, sekarang dimana ibumu?" tanya pemilik kontrakan itu kepada Hiro.
"bibi sekarang sedang di rumah, dia kesakitan. Aku ingin segera membelikannya obat secepatnya agar luka bibi bisa segera sembuh." Hiro menunggu jawaban ke arah ibu pemilik kontrakan itu agar dia bisa dengan cepat membelikan obat yang tepat untuk bibinya.
Ibu pemilik kontrakan memegang tangan Hiro dan berlari sambil menarik tangan Hiro ke rumahnya Hiro. "mpok ingin melihat sendiri kondisi ibumu. Jadi, kita harus cepat sampai di rumahmu agar mpok bisa tahu obat seperti apa yang bisa membuat ibumu sembuh. Atau, mpok bisa memanggilkan dokter untuk menyembuhkan ibumu bila perlu mpok akan membawa ibumu ke rumah sakit agar dia lebih cepat sembuh."
"hm.. Kalau begitu itu berarti kita harus cepat sampai ke rumah." Hiro melihat ibu pemilik kontrakan itu menangis sambil terus berlari menarik tangannya. "kenapa bibi menangis? Oh Aku mengerti. Aku juga kesal karena sudah membiarkan bibi terluka kenapa tidak aku saja yang ditusuk oleh pisau itu. Aku juga khawatir dengan keadaan bibi. Tapi, aku yakin bibi akan segera sembuh dengan meminum obat sama seperti saat dia dilukai dan disakiti oleh orang itu. Benar kan mpok?" tanya Hiro dengan polosnya kepada ibu pemilik kontrakan.
Mpoknya menatap wajah Hiro sambil tersenyum dengan air mata yang terus mengalir. "iya, mpok harap ibumu akan segera sembuh, Hiro."
Sesampainya mereka berdua di depan rumah kontrakan. Rianty berlari dari rumah lalu memeluk Hiro sambil menangis sejadi jadinya. Hati Hiro gemetar perasaannya sangat buruk, sebuah perasaan aneh menghinggapi hatinya yang dia sendiri pun tidak tahu perasaan apa itu.
Hiro mencoba menahan perasaan itu. dengan tenang dia mengusap rambut Rianty. "ada apa? Kenapa kau meninggalkan bibi?" tanya Hiro kepada Rianty.
Rianty menangis mengeluh kepada Hiro. "ibu.. Ibu.. begini.." Suara Rianty sesengukan, dia kemudian mengusap air matanya lalu mulai bercerita lagi. "Tadi ibu bicara padaku, dia bilang bahwa kita harus hidup bahagia dan ibu kesulitan bernafas ibu mengucapkan dua kalimat syahadat lalu menutup mata. Setelah itu ibu tidur, aku berusaha membangunkan ibu. Tapi, ibu nggak bangun bangun gimana ini bang Hiro?" Rianty memeluk Hiro erat merasa khawatir akan keadaan ibunya.
Saat mendengar cerita Rianty, ibu pemilik kontrakan segera masuk ke dalam rumah Hiro untuk mengetahui kondisi ibunya Hiro.
"bibi tidur, mungkin karena bibi kelelahan sehabis pulang dari kerjanya. Ayo kita masuk!" Hiro mengajak Rianty masuk ke rumah, dia selalu mencoba untuk berpikir positif dengan pikirannya yang masih polos. Rianty mengangguk pelan dan berjalan mengikuti Hiro masuk ke rumahnya.
Di dalam rumah mereka melihat ibu pemilik kontrakan sedang mengecek kondisi bibinya Hiro. ibu pemilik kontrakan lalu menangis sambil menatap Hiro dan Rianty. Ibu pemilik kontrakan berlari dan memeluk erat Hiro dan Rianty mencoba untuk menenangkan mereka berdua.
Hiro yang masih tidak paham dengan apa yang terjadi bertanya kepada ibu pemilik kontrakan. "mpok.. Ada apa? Bagaimana keadaan bibi?" tanya Hiro.
"innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Hiro, Rianty." ibu pemilik kontrakan membelai pipi Hiro dan menghapus air mata Rianty. "ibu kalian telah meninggal dunia."
Hiro mengernyitkan dahinya. "apa maksudnya? Bibi katakan dengan jelas bagaimana kondisi bibi? Apa itu meninggal?Bibi baik baik saja kan, bibi masih bisa sembuhkan?" tanya Hiro.
Ibu pemilik kontrakan ibu menarik nafas pilu sekaligus kasihan melihat Hiro dan Rianty. "Hiro, waktu ibu kalian membuka mata sudah habis. Jadi, ibu kalian akan tidur untuk selamanya."
Hiro tersenyum getir, mendengarkan penjelasan dari ibu pemilik kontrakan. "tidur untuk selamanya? Kenapa bisa? Mpok, apakah waktu bibi dibeli lagi. Aku punya uang apakah bisa aku membuat mata bibi terbuka untuk sebentar lagi saja." tanya Hiro, tak bisa menerima kepergian bibinya.
"Hiro, kau masih belum mengerti ya..? Tidak apa apa. Mpok akan jelaskan sekali lagi. Hiro, ciptaan tuhan itu tidak sama seperti ciptaan manusia. jika sudah rusak dan mati tidak akan bisa diperbaiki lagi. Ibumu sudah mengalami luka yang parah terlalu sering oleh karena itu dia sudah tidak bisa disembuhkan lagi sehingga bibinya Hiro sudah mati. Manusia yang mati tempatnya sudah bukan di dunia ini lagi. Bibi Hiro sudah pergi ke tempat yang jauh sehingga Hiro tidak bisa lagi mengapainya. Hiro mengerti?" dengan pelan pemilik kontrakan mencoba menjelaskan situasi ini kepada Hiro.
"nggak mungkin, mana ada bibi pergi jauh. orang bibi terbaring di sana, mpok.. Jangan mengada ada!" teriak Hiro marah, membentak pemilik kontrakan itu. Dia tidak mengerti serta tidak mau mengerti. Tidak, Hiro sama sekali tidak bisa menerima fakta ini.
"ibunya Hiro harus segera dikirimkan ke tempat tidur khusus untuk orang yang sudah meninggal agar dia bisa lebih nyaman dan mendapatkan kasih sayang tuhan. Mpok akan memanggil tetangga untuk ikut mengurus jenazahnya ibunya Hiro dan Rianty. Jadi, sebelum mpok kembali temani ibu kalian ya!" ibu pemilik kontrakan itu berjalan keluar sambil menangis meninggalkan Hiro dan Rianty.
Hiro menggenggam erat tangan Rianty dan berjalan mendekati jasad bibinya yang sudah terbaring tidak bernyawa.
Rianty memeluk jasad ibunya sambil menangis. "ibu.. Mpok bilang bahwa ibu tidur untuk selamanya. Ibu nggak boleh tidur, ibu harus tetap bangun!"
Hiro duduk di samping Rianty yang tengah menangisi ibunya. "bibi sering terluka ya.. Oleh karena itu luka bibi tidak bisa disembuhkan lagi. Maaf, aku sering tidak sempat melindungi bibi sehingga bibi terus terluka. Mpok.. Bilang bibi sudah pergi jauh meninggalkan kami, maaf itu adalah salahku yang tidak bisa melindungi bibi. Eh.." untuk pertama kalinya semenjak dia asuh oleh bibinya air mata Hiro keluar dari mata birunya dan tidak bisa kendalikannya. "aku menangis, kenapa? Bibi tidak akan bangun lagi karena aku sangat lemah sehingga bibi terus terluka sampai tidak bisa disembuhkan lagi. Aku menyesal, aku menyesal karena sangat lemah. aku gagal melindungi bibi. Aku kalah. Haha.. Ha.. Aku lemah." Hiro tersenyum getir dengan air mata yang terus mengalir ke pipinya. "kenapa harus bibi harus mati? Iya, mungkin waktu sembuhku bisa ditukarkan dengan waktu hidup bibi sehingga bisa bangun lagi. Iya, aku akan menanyakan hal itu kepada mpok.. Tapi, kata mpok.. Aku sudah tidak bisa mengapai bibi lagi. Mpok.. Pembohong besar aku masih bisa nie memegang tangan bibi." Hiro menggenggam tangan bibinya, dia mencium tangan bibinya tak mau melepaskannya, "aku takut kehilangan bibi. aku benar benar anak yang tidak berguna. Aku gagal melindungi orang yang telah memberikanku tempat tidur senyaman di rumah ini dan makanan yang enak. Aku masih payah, aku masih lemah, aku masih bodoh, aku masih tidak tahu caranya memasak, aku masih sangat membutuhkan bibi." Hiro memeluk bibinya erat, dia menangis sangat pilu, di dalam hatinya tersimpan penyesalan yang mendalam. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini terjadi. Bibinya yang sangat dia sayangi harus pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Ibu pemilik kontrakan kembali ke rumah Hiro bersama dengan para tetangga untuk segera mengurus jasad ibunya Hiro.
Bersambung
読んでくれてありがとう




