Punya bukti memang membuat pembunuh kenafsuan. Bisakah?
Mobil Volkswagen mereka sekarang berhenti di tengah jalan yang gelap gulita. Di sebelah kanan mereka yang terlihat hutan yang lebat tepat di bawah jurang juga gelap meskipun di terangi sama bulan.
Karena itu, mereka menyalakan lampu sorot di mobil.
“Pak, aku sudah dapat sesuai permintaanmu.” Satomi mulai mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video. Video yang kualitas sangat jelek dan ada tertulis tanggal di bawah pojok itu. Ini adalah rekaman CCTV.
“Maafkan untuk mengganggu, tapi kenapa bapak meminta rekaman ini? Rekaman yang tentang penculikan mobil kepala polisi?”
“Coba lihat.” Masayuki memperlihatkan rekaman ini. Rekaman ini berisi ada penampakan manusia yang bertopeng kain memanjat dari tiang yang tinggi lalu mencuri mobil Van bewarna putih lewat gerbang.
“Ini video selanjutnya di mana kasus kecelakaan di jalan Wadauchi terjadi.” Satomi memutarkan video selanjutnya. Terlihat ada mobil van bewarna putih yang tidak sengaja menabrak seorang perempuan dan mati. Namun, mobil van itu berhenti dan tidak bergerak. 45 detik kemudian, mobil Van itu bergerak dan melindasi mayat tersebut.
“Aku hanya meminta semua kasus yang terjadi di tanggal yang sama. Apakah kamu dapat semuanya?”
“Ya pak, di tanggal itu ada 4 kasus. Kasus pembunuhan Akada, kasus penculikan mobil, kasus kecelakaan di jalan Wadauchi, dan...” Dia mulai membaca kasus terakhir. “Kasus kehilangan anak.”
Masayuki sekarang punya 4 bagian dan saatnya untuk memasang seperti puzzle kayu.
“Aku tidak tahu apa terjadi dengan kasus kehilangan anak. Jelaskan secara rinci.” Masayuki mulai menurunkan jok mobil dan menyender dengan santai sambil dia melihat kaca spion di dalam mobil. Dari jauh, dia melihat ada lampu sorot. Tapi itu bubar karena Satomi mulai membaca.
“Kasus itu terjadi setelah orang tua anak ini bernama Ryui Kai, seorang perempuan berumur 6 tahun. Melaporkan ke pihak polisi jam 5 pagi. Kemungkinan anak ini diculik. Namun, kasus ini sudah ditutup selama 3 Minggu karena tidak ditemukan. Lalu, polisi mempunyai petunjuk.”
“Petunjuk apa?” Satomi membalik halaman karena dia menulis banyak.
“Petunjuk itu sebuah rekaman CCTV. Sekitar jam 00:10. 5 menit sebelum kecelakaan terjadi di Wadauchi, dia menampak di jalan Kadaechi. Jalan sebelumnya Wadauchi. Polisi sudah mencurigakan ini dan mengecek rekaman CCTV yang tentang kecelakaan Wadauchi. Namun berdasarkan yang bapak lihat, tidak ada penampakan anak kecil ini sehingga kesimpulan bahwa anak kecil ini tidak melewati Wadauchi.”
“Begitu, tunggu dulu...” Masayuki mulai curiga. “Bukankah kedua jalan itu ada sebuah sungai dipinggir jalan? Pasti ada trotoar di pinggir sungai.”
“Sudah pak, itu sudah dicek dan tidak ada jejak apapun.” Masaki mendecak lidah karena dia memikirkan kalau itu merupakan petunjuk. Sekarang mereka mendapat bagian, 4 kasus yang terjadi di tanggal yang sama dan waktu yang beda tipis.
"Omong-omong," Satomi menoleh ke arah Masayuki yang kini dia melihat bagaimana pandangan hutan di malam hari. "Bapak tadi siang ditelpon sama siapa?" Satomi tetap mempunya penasaran karena dia tidak diberitahukan sedangkan Masayuki meletakkan tangan ke wajahnya karena dia lupa.
"Yang aku ditelpon adalah seorang yang menyuruh Keiji untuk membunuh Akada dan menculik anak walikota itu."
"Apa yang dia katakan? Suara seperti apa?" Satomi mulai bertatapan dengan tajam dan bertanya lebih dalam.
“Dia mengatakan untuk pergi ke gubuk itu atau barang bukti akan hangus dan suaranya tidak diidentifikasi karena menggunakan suara robot. Itu yang dia katakan, Tapi apa? Itu hanya jebakan saja untuk membunuh kami.” Satomi mulai merenungkan nasib baiknya karena mereka berdua lolos dari kematian. Namun, apakah itu hanya sekali saja? Itu yang mereka pikir dan sudah dalam mode siaga karena mereka akan dilakukan dengan cara yang lebih kejam dari kejadian gubuk di siang hari.
"Tapi pak, bagaimana dengan anak itu?" Satomi barusan ingat dimana mereka masuk ke gubuk dan bertemu dengan anak SMA.
"Itu yang aku pikirkan sekarang. Saya tidak tahu mengapa anak itu berada di gubuk itu...."
"Mungkin gubuk itu merupakan tempatnya?" Satomi punya theori dan mengatakan kalau anak itu punya gubuk. Namun, Masayuki menyangkal.
"Itu tidak mungkin, gubuk itu sangat jauh dari tempat rumahnya bahkan saya tidak melihat dengan jelas ke gubuk yang berada di atas rumah anak itu. Lagipula, itu tidak mungkin dia mempunyai gubuk yang amat jauh dari rumahnya dan isinya kosong." Masayuki mengingat dimana dia masuk ke gubuk itu, tidak ada perabotan yang terletak dalam gubuk ini. Kecuali sebuah meja kecil yang anak itu menghadap dengan tatapan lebih mengerikan. Sayangnya, Masayuki tidak memperhatikan ke benda yang dia lihat sehingga dia tidak tahu apa barang apa yang membuatnya seperti itu.
Suatu teori telah muncul di otak Masayuki yang selalu mencambuki untuk mendapat jawaban.
"Atau..," Masayuki mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk ke bawah. "Anak itu juga terlibat? Sehingga kemungkinan bahwa dia juga disuruh untuk pergi ke gubuk juga kami supaya kami bertiga dibunuh dalam waktu yang sama?"
Mereka berdua saling bertatap dan punya pikiran yang sama. Ya, pikiran mereka bahwa anak itu terlibat juga ditargetkan oleh peneror itu. Masayuki mulai mengingat dimana dia diberitahukan oleh kedua polisi bahwa anak itu keluar dari gang sempit. Anak itulah yang mereka maksud.
Masayuki berpikir bahwa anak itu pernah berhadapan dengan peneror kota ini sehingga...
Ya, pelaku 6 tahun lalu juga menjadi peneror kota sekarang.
"Satomi, mari kita pergi ke rumah anak itu. Kita akan bertanya." Satomi tahu apa tujuannya sehingga dia menyalakan mobil tanpa ragu karena dia sudah tahu tujuan mana yang mereka harus lakukan.
Namun...
“Tidak kuduga kalau gubuk itu merupakan jebakan untuk membunuh kita.”
Masayuki menghela nafas sambil menoleh ke arah kanannya yang terlihat hanyalah hutan terletak di bawah yang gelap karena tidak ada matahari. Termasuk jalan raya ini, yang berbelok-belok karena berada di bukit sehingga Satomi menyalakan lampu sorot di mobil.
Satomi menoleh ke sebelah yang melihat Masayuki sedang memegang dagunya sehingga dia serius untuk mencari petunjuk tentang bukti ini. Lalu dia tiba-tiba mematikan mobil dan berhenti di tengah jalan.
“Kenapa kamu berhenti?”
“Ya karena aku tidak mau mengganggu bapak untuk memikirkan. Lagipula jalan ini sepi dan jarang dipaki sehingga aku bisa berhenti di tengah jalan.”
Masayuki tersenyum lalu menyalakan lampu di dalam mobil. Dan saatnya untuk bekerja.
“Pak, siapa yang menelpon bapak tadi siang?” Satomi tetap mempunyai penasarannya karena dia tidak diberitahu sampai sekarang. Masayuki mulai meletakkan tangannya ke wajahnya karena dia lupa.
“Yang menelpon ke aku adalah seorang yang menyuruh Keiji untuk membunuh Akada.”
“Apa yang dia katakan? Suara seperti apa?” Satomi mulai bertanya dengan tatapan yang tajam.
“Dia mengatakan untuk pergi ke gubuk itu atau barang bukti akan hangus dan suaranya tidak diidentifikasi karena menggunakan suara robot. Itu yang dia katakan, Tapi apa? Itu hanya jebakan saja untuk membunuh kita.”
“Tapi pak, bagaimana dengan anak itu?” Perkataan itu membuat Masayuki tiba-tiba menegak dan menoleh ke Satomi yang juga penuh pertanyaan. Mereka saling bertatapan dengan banyak pertanyaan di pikiran mereka.
Yang dia maksud adalah anak yang berada di dalam gubuk.
Masayuki mengingat dimana dia masuk ke gubuk itu dan isinya hanyalah bocah itu dan ada benda yang busuk. Tapi dia menghiraukan karena dia mencari bukti... Atau...
“Apakah kepala manusia yang di meja itu merupakan bukti? Atau jebakan?” Masayuki bertanya itu, dan kemungkinan ya. Tapi apa itu merupakan bukti? Itu Cuma menunjukkan betapa mengerikan peneror di kota ini.
Sekarang mereka berpikir tentang anak itu. Bagaimana dia bisa masuk di gubuk itu.
Namun, ada muncul sebuah teori di otak Masayuki.
“Apakah anak itu juga terlibat dalam kasus ini? Sehingga dia disuruh ke gubuk itu juga kami supaya membunuh sekalian?” Teori Masayuki mulai terpasang.
Dia mengingat bahwa anak itu
Namun...
“Lupakan saja, yang aku tahu kalau tidak ada bukti di sana. Dan itu Cuma menjebak kamu, kemungkinan teman dari anakku juga kebetulan berada di gubuk itu dan tidak sengaja melihat ada kepala manusia. Yang penting, kita tahu kalau pelaku ini masih ada di kota ini.” Masayuki mulai menggeleng kepala seolah dia melupakan semua ini. Karena tidak ada hubungan sama sekali dengan kasus apa yang dia hadapi. Satomi tidak memikirkan itu.
“Pak, aku sudah dapat sesuai permintaanmu.” Satomi mulai mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video. Video yang kualitas sangat jelek dan ada tertulis tanggal di bawah pojok itu. Ini adalah rekaman CCTV.
“Maafkan untuk mengganggu, tapi kenapa bapak meminta rekaman ini? Rekaman yang tentang penculikan mobil kepala polisi?”
“Coba lihat.” Masayuki memperlihatkan rekaman ini. Rekaman ini berisi ada penampakan manusia yang bertopeng kain memanjat dari tiang yang tinggi lalu mencuri mobil Van bewarna putih.
“Ini video selanjutnya di mana kasus kecelakaan di jalan Wadauchi terjadi.” Satomi memutarkan video ini. Terlihat ada mobil van bewarna putih yang tidak sengaja menabrak seorang perempuan. Namun, mobil van itu berhenti dan tidak bergerak. 45 detik kemudian, mobil Van itu bergerak dan melindasi mayat tersebut.
“Jadi, kenapa bapak meminta kedua rekaman ini?” Satomi bertanya.
“Aku hanya meminta semua kasus yang terjadi di tanggal yang sama. Apakah kamu dapat semuanya?”
“Ya pak, di tanggal itu ada 4 kasus. Kasus pembunuhan Akada, kasus penculikan mobil, kasus kecelakaan di jalan Wadauchi, dan...” Dia mulai membaca kasus terakhir. “Kasus kehilangan anak.”
Masayuki sekarang punya 4 bagian dan saatnya untuk memasang seperti puzzle kayu.
“Aku tidak tahu apa terjadi dengan kasus kehilangan anak. Jelaskan secara rinci.” Masayuki mulai menurunkan jok mobil dan menyender dengan santai sambil dia melihat kaca spion di dalam mobil. Dari jauh, dia melihat ada lampu sorot. Tapi itu bubar karena Satomi mulai membaca.
“Kasus itu terjadi setelah orang tua anak ini bernama Ryui Kai, seorang perempuan berumur 6 tahun. Melaporkan ke pihak polisi jam 5 pagi. Kemungkinan anak ini diculik. Namun, kasus ini sudah ditutup selama 3 Minggu karena tidak ditemukan. Lalu, polisi mempunyai petunjuk.”
“Petunjuk apa?” Satomi membalik halaman karena dia menulis banyak.
“Petunjuk itu sebuah rekaman CCTV. Sekitar jam 00:10. 5 menit sebelum kecelakaan terjadi di Wadauchi, dia menampak di jalan Kadaechi. Jalan sebelumnya Wadauchi. Polisi sudah mencurigakan ini dan mengecek rekaman CCTV yang tentang kecelakaan Wadauchi. Namun berdasarkan yang bapak lihat, tidak ada penampakan anak kecil ini sehingga kesimpulan bahwa anak kecil ini tidak melewati Wadauchi.”
“Begitu, tunggu dulu...” Masayuki mulai curiga. “Bukankah kedua jalan itu ada sebuah sungai dipinggir jalan? Pasti ada trotoar di pinggir sungai.”
“Sudah pak, itu sudah dicek dan tidak ada jejak apapun.” Masaki mendecak lidah karena dia memikirkan kalau itu merupakan petunjuk.
“Baiklah pak, aku akan jalan mobil ini.”
(Akhirnya, mereka mati. Punya kebuktian merupakan tanda akhirat mereka mulai dijemput. Bisakah kalian memilih kasus ini?)




